Rabu, 11 Agustus 2010

RAMADHAN TLAH TIBA

Makassar, 11 Agustus 2010

Engkau adalah tamu agung
Datang memberikan hadiah
Bagi para pelopor Islam
Jua datang Membakar segala khilaf & salah

Ya Allah...
Telah kumemohon sebelum ramadhan
Berkatiku di Rajab dan Sya'ban
Dan sampaikanku pada Ramadhan

Kini ia datang
kuatkan hamba menyambutnya
Lenturkan lidah hamba dalam dzikir
Jadikan tiap gerak hamba Ibadah

Marhaban Ya Ramadhan
Marhaban Ya Syahras Shiyam
Marhaban Ya Syahral Maghfirah
Labbaik Ya Ramadhan labbaik...

LAYLATUL QODR

Makassar, 11 Agustus 2010

Malam yang dinantikan
Malam pelipat ganda pahala
Malam hamparan Nikmat
Dialah malam 1000 bulan

Angin berhembus lamban
Gerak dedaunan ikut terhenti
Air berubah sesejuk salju
Pada malam 1000 bulan

Hati kubersihkan
Amarah kupadamkan
Sajadah kubentangkan
Untukmu malam 1000 bulan

Ya Robb...
Bimbingku meuju malammu
Malam yang dirindu Umat Islam
Yaitu malam Laylatul Qodr

BUKAN SURGA ATAU NERAKA


Makassar, 11 Agustus 2010

Syurga itu Impian
Di dalamnya penuh kenikmatan
Yang tak pernah dirasakan
Bahkan sekedar memikirkannyapun tidak

Neraka itu kehancuran
Di dalamnya terkumpul siksaan
Api yang melelehkan kulit
Terbuat dari tubuh manusia

Ya Robb...
Kutunaikan perintahmu
Dari ibadah wajib
Hingga Sunnah pun kulaksanakan

Ya Robb...
Kutinggalkan laranganmu
Dari bibit dosa kecil
Hingga dosa besarpun kutanggalkan

Kupatuhi segala perintah
Bukan sekedar menuntut imbalan syurga
Kuhindari setiap larangan
Bukan karna takut pada nerakamu
Tapi... demi secuil Ridho dari-Mu

Minggu, 01 Agustus 2010

TABIR HAKIKAT

Makassar, 29 juli 2010
singa padang pasir


Kutatap jam dinding yang berdetak
di dinding kamarku
seakan ia menegur dan manyapaku
saat semua orang terlelap dalam mimpi-mimpinya
hai kawan...
mengapa engkau belum jua istirahat?
padahal sebentar lagi fajar kan menyongsong
dan akan menutup lembaran malam
sementara kau masih asyik bergelut dengan buku
cobalah tuk berhenti sejenak
beranjak dan tinggalkan tempatmu
untuk sentuhan air yang begitu sejuk
di pertiga malam ini
karna Tuhan sedang menantimu tuk menengadah

lama kemudian aku mulai bergikir
atas kabar yang diberitakan sang waktu
harusnya kusisihkan sedikit waktu
sekedar tuk merenungi tumpukan kesalahan
yang telah menodai gaun putihku
gaun putih yang suatu saat
akan kupakai tuk menghadap pada-Nya
dan...
perlahan di tengah renunganku
terbayang seabrek kesalahan-kesalahan
yang sampai sekarang
aku masih saja asyik berenang diatasnya
kesalahan dalam bersikap
kesalahan dalam memahami arti cinta
yang hanya membuat egoku berkembang biak
yang hanya membuatku rakus
rakus tuk memiliki segalanya
padahal cinta tak mestinya seperti itu
karna cinta seharusnya tetap mekar
meski suatu saat yang dicintai pergi menghilang
meski ia berada di ujung langit sana
karna ia ada bukan karna kepemilikan
bahkan ia tak berharap akan itu
tapi ia ada karna ketulusan
dan kasih sayang
terima kasih waktu
telah membuat mataku dapat melihat terang
setelah sekian lama di cekam gelap
terima kasih cinta
telah mewarnai hidupku
setelah sekian lama buram
terima kasih kepada semua
atas cinta yang tak di ajarkan
bahkan di bangku sekolahan

Senin, 26 Juli 2010

BUAH CINTA PULAU CANGKE

Makassar 25 Juli 2010
Singa Padang Pasir

Mataku terperanjap dan terpaku
Saat kutatap sepasang kasih yang bersatu padu
Dan berjuang di atas sebuah pulau
Yang sampai kini tak semua orang tau
Mereka lalui waktu
Meski dingin bak salju
Menyelusup dari corong rumah kayu
Membekukan badannya di kegelapan tanpa cahaya lampu
Sungguh... ku tak dapat menahan air mataku
Yang berjatuhan membasahi pipiku
Saat melihat mereka mengayuh diatas perahu
Dan bermesraan seperti cerita masa lalu
ingin rasanya kulalui hidup itu
Meski gelap mengundang hantu
Asal ada bidadari yang memangku
Dan menuntun hingga sampai di ujung hulu

Sabtu, 24 Juli 2010

KEINDAHAN SASTRA PENCIPTA

Makassar 27 Juli 2010
Singa Padang Pasir

Senang. Riang dan bahagia
Saat kutatap wajah lugu tanpa dosa
Bernyanyi meski diapit oleh derita
Bersama teman-teman sebaya
Senang, riang dan bahagia
Menatap sang bayu ikut bahagia
Menyaksikan tawa dari temannya
Sebagai tanda pelipur lara
Akhirnya
kutau alur drama
Yang di susun oleh sang sutradara
Ia tiada merugikan siapa-siapa
Inilah bukti karya sastra
Terindah. termegah sepanjang masa
Dan tiada seorangpun bisa menyainginya
Karna ia tercipta bukan untuk tandingan problematika

Sabtu, 10 Juli 2010

aplikasi the power of kepepet

kemarin adalah hari terakhirku ujian, meski belum semuanya kelar, karna masih banyak tugas yang numpuk dan harus segera di selesaikan, tetapi setidaknya saya bisa sedikit bernafas lega, kemarin adalah babak penutup ujian dan ujian itu ditutup dengan pelajaran fiqh dakwah yang diajarkan oleh ust.ismail.Lc, pelajaran itu ibarat permainan catur dengan langkah skat ster, tidak ada pilihan, gak masuk udah pasti gak dapat nilai, masuk dan gak bisa menjawab, yeah... setidaknya masih bisa berdoa tuk kebaikan nilai itu.
ooopss... itu bukan hal penting
bersamaan ujian fiqh dakwah, ada lagi satu mata kuliah yang paling aku minati, karna bersentuhan langsung dengan fisik, tetapi kali ini aku tida terlalu menyukainya, coz kakiku lagi bermasalah, habis keseleo dan harus berjalan seperti kakek-kakek (uhh).
"ujian life skill ini tidak akan ada artinya kalau nanti sore tidak ikut ujian fisik" suara dosenku itu membuat saya berang...
wah.. masa kayak gini, terus... gimana dengan kakiku, kacau balau dunia kalau kayak gini, tapi apa boleh buat keputusan tetap keputusan.
akhirnya saya memutuskan untuk tidak ikut, biarlah gak dapat nilai, itu gak masalah bagiku, namun... tiba-tiba ada junior yang ngeledek dan nantangin
"eits.. kasian, adami orang yang tidak dapat nilai" dia ngeledek sambil menjulurkan lidahnya di depanku, sebagai senior ini adalah penghinaan bagiku, tanpa pikir panjang kutantang dia, siapa bilang saya tidak bisa lari, nanti sore kita akan lari sama-sama, kan larinya cuma 30 menit, itu kecil buatku, kita akan liat siapa yang duluan berhenti.
agar suasana semakin ramai, kuajak lagi beberapa junior tuk lomba, agar ada tantangan bagiku.
sorepun tiba, saya sudah siap dengan pakaian serba hitam, coz bagiku warna hitam itu adalah warna semangat...
kami start dari asrama dan akan melewati jalan raya-perumnas-tembus TPS-balik ke asrama,.
lets go...
kami pun berlari (bersambung)

Rabu, 30 Juni 2010

AISYAH ABAD 21

Sejarah tlah berbicara
Akan kisah aisyah yang cantik jelita
Yang membuat Rasulullah jatuh cinta
Dan mengiringi perjalannya

Namun...Sejarah tinggallah sejarah
Hanya bisa membuat kita berkata wah
Lalu terdampar pasrah
Dan tak dapat mengukir sejarah

Kecuali kalau kita ingin beda
Dengan mengambil pelajaran darinya
Serta memasukkan nilai sejarah dalam diri kita
Dan membuat decak kagum seantero jagad raya

Seperti jiwa seorang aisyah
Yang kini menjelma di dalam diri muthmainnah
Ia siap tuk torehkan sejarah
Agar sejarah tak hanya berlabel sejarah

Ia datang tuk mengubah dunia
Dengan sikap tegas dan manja
Tertawa riang di atas kertas kanvas dunia
Yang nantinya akan ia penuhi dengan ukiran cita-cita

Untukmu muthmainnah
Usah kau sibuk banyak membaca sejarah
Karna kaupun dapat mengukir sejarah
Dengan melakukan sesuatu yang wah

(buat inna, happy birthday, tetaplah dengan sikapmu yang manja, karna di dalam kemanjaanmu, sesungguhnya kau memiliki kekuatan yang tak dimiliki oleh orang lain)

KERINDUAN

Makassar 28 juni 2010
Singa Padang Pasir

Ada yang tlah menghilang
Di antara padang ilalang
Saat ia hanya dapat di kenang
Saat rindu tak tertuang

Tak ada yang dapat membuat dusta
Akan indah roman dalam dirinya
Semuanya terlihat jelas denga gerak aktivitasnya
Tanpa bertuju pada kemegahan dunia

Rindu kini kian memuncah
Merasuk bersama rasa resah
Tiada lagi dapat menikmati indah
Bahkan dari titik kecil sebuah celah

Kerinduan ini tak lagi tertahankan
Melihatnya lari menjauh dari kehidupan
Takut bukan main
Jikalau dia berlari dan tiada kembali kepangkuan

Senin, 28 Juni 2010

DIA YANG KINI BERSERAKAN


Makassar 28 Juni 2010
Singa padang pasir




Dia yang kini berserakan
Di kepala tanpa ideologi keilmuan
Di cekam untuk sebuah pembenaran
Dari tiap butir kesalahan

Dia yang kini berserakan
Dalam ruang kesepian
Dan hanya terkungkung oleh ego tujuan
Dari para pengusung kejahatan

Dia yang kini berserakan
Dengan segala keserakahan
Dalam arus perputaran
Di tengah-tengah roda kehidupan

Dia yang kini berserakan
Dan kaupun tak tahu apa yang berserakan
Dia adalah sajak, karya, ekspresi, hujjah, dalih serta pengetahuan
Dan dia seringkali menjati tumbal pembenaran

Kamis, 17 Juni 2010

CARA MENSETTING PARADIGMA

Hidup ini memang sangat indah, kita bisa berbuat apa saja sesuai dengan kehendak kita, meskipun segala sesuatunya telah diatur oleh sang Pencipta, tetapi tetap aja indah, benar ndak!!! Ya iyalah, indah mana coba orang yang hidup di dunia ini atau orang yang gak sempat menghirup udara dunia ini?, kan tetap aja yang indah itu adalah yang hidup, karna dia bisa merasakan kehidupan ini, meski pahit yang dirasakan lebih sering dari pada manisnya.
Oeya… di dalam tulisan mungil ini, aku ingin berbagi cerita bagi kalian yang membaca tulisan ini, beberapa hari yang lalu, tepatnya jam 12 malam, aku kembali ke Madinah setelah tertidur bakda isya di Makkah, dan kudapati ketiga temanku masih segar, matanya tetap nyala seterang lampu 100 watt, mereka bercanda ria, sesekali memukul. Dan semuanya berhenti saat aku masuk, pada saat melihat mereka mulai segan, aku langsung masuk ambil celah, masuk dengan langkah tegap, badanku sengaja kubusungkan, agar mereka tambah segan. Dan semuanya berjalan lancer, mereka tidak bicara apa selain iya dan tidak.
Setelah merasa puas menggertak mereka, tiba-tiba satu dari junior saya mendekat, ia membisikkan sesuatu padaku “pinjam dulu motorta’ ka”, wajahnya sangat asli, tanpa kebohongan, wajahnya menggambarkan kelaparan, yeah.. akupun meminjamkannya
*****
Sepuluh menit kemudian juniorku yang tadi pinjam motor kembali, namun sekarang ia kembali dengan berjalan kaki, padahal berangkatnya naik motor, aku mulai pusing dan bertanya-tanya, inii anak kok pulang jalan kaki, dimana yah motorku dia simpan.
Dimanaki motor bro…?” tanyaku dengan memandang matannya
“a a anu kak, ditilangka’ kak, itu motor sekarang ada di polsekta manggla”, muka kasihan itu muncul lagi, tapi untuk momen yang berbeda
“jadi…”
“berapa biasa di bayar kalau ditilangki’ “ tanyanya padaku
“hari gini bayar polisi, cuapek deh, sini saya yang urus”
****
Masih mau lanjut, singkat cerita motorku sekarang disekap di kantor polisi, dan saya harus cari cara agar motor itu bisa keluar dari kantor polisi tanpa ada transaksi sogok menyogok, akhirnya saya teringat dengan rumus ampuh yang tersave diotakku “kemarahan itu sosok dari senyuman, ketakutan merupakan bayangan dari keberanian, seram itu pakaian dari hal-hal yang lucu”,
Sekarang saya punya tugas, memprogram kerja otakku dengan merubah posisi polisi yang seram, menjadi lucu dengan seragam yang ia kenakan.
Dengan rumus tadi setidaknya saya tinggal melangah satu langkah dan motor bisa saya ambil kembali, caranya gimana??? Ya,, harus ke kantor polisi dong.
Saya telah meletakkan paradigma rumusku yg tadi dengan sangat kokoh, sekarang aku berangkat ke kantor polisi, sesampainya disana, terlihat gerombolan polisi yang lagi asyik main domino, aku bertanya dalam hati “gimana masyarakat mau bener, polisi aja main domi”.
“ hei.. ada apa”, sosok raksasa berdiri di depanku dengan seragam lengkap.
“mau ambil motor pak” suaraku lebih jantan darinya, coz sudah dilatih sebelum berangkat
“masukmi uruski”
Di dalam kulihat satu polisi yang lagi sibuk ngotak atik computer, di sampingnya terdapat dos the gelas, didalamnya berserakan kunci motor yang juga ditahan
“yang mana kunci motormu” tanyanya dengan muka kecut
“ini pak” sambil menunjuk ke salah satu kunci yang berserakan itu
“simmu mana?” pertanyaannya semakin menakutkan
“tidak ada pak, tidak luluska’ waktu ambil SIM” alasan yang cukup untuk membuat pak polisi bingung, antara mau percaya atau tidak.
Diselang pembicaraanku dengannya, sudah puluhan orang yang datang ambil motornya dan mereka sangat gampang ambil motornya, coz di balik tanda tangan diselipkan uang sebagai tanda terima kasih “katanya…..”, tetapi… aku tetap teguh dengan pendirianku, tidak mau memberikan uang sepeserpun. Mungkin karna bosan melihatku, akhirnya keluar juga kalimat yang dari tadi aku tunggu.
“tanda tanganmi pale’, jangan begitu lain kali nah.”, matanya masih saja melirik kantongku, mungkin mengharap tanganku mengoceknya.
“terima kasih pak” ucapku sebagai tanda terima kasih.
“Akhirnya aku bisa pulang” ucapku di dalam hati, rasa senang mewarnai kemenanganku.
Ending dari kisah diatas adalah kembali membawa pulang motor dengan tidak membayar uang sogokan sepeserpun, walupun sebenarnya saya juga yang salah gak punya SIM dan nggak pergi ngurus DD motorku yang jatuh. Abis…. Gak punya uang coy.
So… segala rintangan yang menghalang di rel tujuan utama kita, bisa kita singkirkan, selama kita bisa membuat paradigm tersendiri. Apalagi bagi seorang dai, sudah seharusnya dai itu menciptakan paradigm untuk mencapai peradaban, bukannya ikut kepada paradigma masyarakat yang berasal dari pengalaman, bukan dari pengetahuan.
Jadi intinya… kita ini bisa membuat paradigma sendiri untuk mencapai kesuksesan yang kita inginkan di muka bumi ini dengan memperhatikan etika-etika yang ada, jangan sampai menyalahi etika-etika tersebut, baik etika kesopanan di masyarakat maupun etika yang telah diatur di dalam agama kita. Jadi… kalau kita bisa membuat paradigm sendiri, ngapain… mikirin paradigma orang lain, yang bisa jadi akan membuat kita tergelincir dari rel impian, cita-cita dan tujuan kita.
Mari menjadi orang yang aneh (asing), yaitu orang-orang yang sedikit, kalau orang kebanyakan singa itu adalah makhluk yang gana, maka kita kita mengatakan dia jinak, karna kita bias menjinakkannya, seperti polisi yang sy kisahkan diatas, anggaplah polisi itu luc, bukannya garang.
Semoga berhasil….

Minggu, 13 Juni 2010

VHIYA NAMANYA

Makassar 12 Juni 2010
singa padang pasir


Dadanya sesak
Darah tertumpah dari tenggorokannya
Tangan ia kepalkan
Member isyarat hidupnya pada alam sekitar

Tiada yang bisa berbuat apa-apa
Warga hanya memberi iba
Mata sekitar hanya mampu merekam kesakitannya
Tanpa bisa menjanjikan kehidupan

Semua kehilangan nuran
Saat nurani di suguhkan tuk ditampilkan
Mengulurkan sedikit uluran tangan
Agar kecewa tak menghantui

Semua berlalu
Berlari membuang rasa peduli
Menutup telinga dengan ketakutan
Takut akan kesialan yang akan menimpa mereka

Vhiya…
Gadis berambut panjang berusia 18 tahun
Mencitakan aroma kampus merah
Namun Merah darah yang bisa ia hirup

Vhiya…
Begitulah kakaknya memanggilnya
Dengan suara parau kesedihan
Menyaksikan adiknya bermandikan darah

Vhiya…
Namanya selalu membahana
Dari serak suara kepedihan sang kakak
Mengiringi arwahnya ke atas sana

***Selamat jalan vhiya***

(vhiya, gadis yang kutolong saat kecelakaan di depan SD antang jam 09:15, darah tertumpah dari mulutnya, dan kakaknya hanya bisa meratapinya, ia meninggal pada jam 11:10 di RS IBNU SINA)

Selasa, 08 Juni 2010

HADIAH TERINDAH


Makassar 8 Juni 2010
singa padang pasir





Ku persembahkan permadani termegah dari Timur Tengah sana
Yang beralaskan mutiara hitam dari negeri Singa
Dan di atasnya bertaburan bunga dari negeri sakura
Untuk dihamparkan di puncak menara Al-Aqsa

Al-Aqsa adalah ruang bagi jutaan keajaiban dunia
Kiblat Umat Islam yang pertama
Shalat dua rakaat di dalamnya
serasa 500 rakaat selainnya

Al-Aqsa juga terminal Kesucian
Tempat Nabi Muhammad menanti kendaraan (buroq)
Menuju Istana sidhratul Muntaha
Melesat dengan laju yang tak dapat disaksikan mata

Al-Aqsa tempat kediaman beberapa Nabi
Mereka datang membawa lembaran tiket solusi
Tiket yang mengantarkan kaumnya ke taman syurga
Menikmati kenikmatan yang tak pernah dinikmati didunia

Rabu, 02 Juni 2010

KARNA MEREKA ADALAH SAUDARA


Makassar 3 juni 2010
Singa padang pasir




Saat tank memuntahkan isi perutnya
Mengarah ke bangunan-bangunan di palestina
saat itu juga jantungku serasa tergoncang
Meski aku hanya mengetahuinya lewat koran

Karna mereka adalah saudara

Saat pesawat datang meneteskan hujan peluru
Di setiap raga para mujahid
Saat itu juga jiwaku bergetar
meski aku hanya bisa menyaksikannya lewat televisi

Karna mereka adalah saudara

Saat senjata AK 47 mereka lontarkan
kepada ibu dan bayi dipalestina
saat itu juga darahku mendidih
Meski aku hanya bisa melihatnya dari jarak yang begitu jauh

Karna mereka adalah saudara

Jangan pernah gentar atau surut kebelakang
Meski jutaan pecundang israel mengepungmu
Teruslah maju... lindungi kehormatan kita semua (tanah suci palestina)
Doa kami kan selalu mengiringi langkahmu

Israel tidak punya sejarah kemenangan
Karna mereka tak paham arti kemenangan
Israel hanyalah pemain cadangan dalam kancah kehidupan
Suatu saat dan pasti sang sutradara (Allah) tak akan memakainya lagi

Usah kau bersedih saudaraku
Balutlah lukamu dengan kain kesabaran
Dan teteskan obat luka yang terbuat dari racikan taqwa dan keimanan
Lalu kembalilah ke medan dengan senjata Tawakkal dari para malaikat

Berikan ganjaran atas perbuatan mereka
Karna Mereka tlah berani memasuki kandangmu (Al-Quds)
Dan membangunkanmu dari tidur lelap (dzikir)
Sebentar lagi mereka akan menyesali perbuatannya

Tunjukkan kepada mereka
Bagaimana permainan singa di atas padang pasir
Cengkram jantung mereka dengan cakarmu
Agar mereka paham arti siksaan

Tetaplah diatas sana kawan
Yakinlah akan janji kemenangan yang telah Allah janjikan padamu
Jangan kau menjadi pengecut seperti sebagian muslim di perang uhud
Karna sebentar lagi kami akan bergabung dengan kalian

Allahu akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Senin, 31 Mei 2010

KENANGAN DAN HARAPAN


Malam kian larut, kutatap panah yang menancap didinding kantor, ia berputar melewati angka-angka, berlalu dan terus berlaru, pikiranku ikut berputar mengikuti putaran anak panah itu, namun... haluannya saja yang berbeda, pikiranku berputar ke belakang, mengingat... detik-detik sebelum arwah Guru Taluladan terbaik yang pernah aku kenal (My mather), pergi tuk selamanya, sekitar 2 tahun silam.
Saat itu aku duduk disampingnya, menatap wajahnya yang perlahan-lahan susah tuk di kenali, karena penyakit kanker usus yang ia derita semakin parah dan telah memasuki stadium empat, entah... apa yang kupikirkan, ku berdoa agar Allah secepatnya membawanya ke taman Syurga, agar ia tak lagi merasakan penderitaan. Akhirnya doaku pun terkabul.
“Nak, tolong ambilkan saya kertas dan pulpen”, suaranya terdengar semakin sayu, sementara matanya memandangiku tajam, seakan ada pesan penting yang ingin ia sampaikan
Tanpa berpikir panjang kuambil tas kuliahku, di dalamnya terdapat binder yang tak pernah aku tinggalkan kalau aku keluar dari kampus atau sedang di kampus.
Kusodorkan buku itu padanya, tetapi mataku tak ingin melepaskannya, hari itu jika saja kita sebagai manusia diperbolehkan tuk berandai, maka aku ingin nyawaku di tukar dengan nyawanya, ia memang sosok yang bijaksana, setiap kata yang terucap dari bibirnya adalah pesan kebenaran buatku.
Telah selesai ia menuliskan pesan itu, lagi-lagi matanya mengeluarkan butiran-butiran mutiara, hingga pipinya basah, di selah-selah kesedihannya, ia tetap saja mencoba melemparkan senyuman kepada kami semua.
“Ada apa nak?” seorang pejuang datang bertanya yang tak lain adalah ayahku
“Ini, beliau punya pesan” sambil kusodorkan kertas itu kehadapannya.
“pesanku yang terakhir : Aku ingin keluar melihat orang banyak, ajalku sudah ada di rumah, kalau saya tidak sampai di rumah, sampaikan salamku sama aji”
Hanya itu pesannya yang terakhir sebelum ia pergi bertamasya ke taman syurga, setelah sekian lama ia hanya bisa menciu aroma obat-obatan serta teman-teman yang juga terbaring di RS itu.
Dokter pun datang dengan kalang kabut, mencoba menyuntikkan cairan ketubuhnya, dan ternyata cairan itu malah keluar melewati bekas-bekas suntikan sebelumnya, aku tak lagi bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa memberikannya senyuman terakhir, serta penghormatan dengan mencium tangan, pipi dan kakinya, agar ia kelak mengingat anaknya ini, inilah yang Allah kehendaki.
Malam semakin larut, sekarang anak panah tertancap di angka 2, kembali ku mencari jati diri yang tak tahu kemana, jati diripun kutemukan, namun aku belum tahu jati diri ini harus kubawa kemana?, belum juga tuntas ku melabuhkan kapal jati diriku, ku teringat lagi akan Singa yang mengajariku juga tuk menjadi singa, tadi sekitar jam 19.00, aku singgah menjenguknya di rumah sepupuku, terlihat singa itu terkapar, ia hanya memanggil namaku dan menyuruhku tuk mengurut punggungnya, kulakukan semua apa yang ia inginkan, karena meski semuanya tlah kulakukan, tetap saja pengorbannannya tuk menjadikanku singa takkan bisa terbayarkan.
Perlahan kumulai sadar bahwa singa ini juga semakin tua, dan tenaganya semakin berkurang, aku harus mempersiapkan diri tuk menduduki tahtanya, agar adiik-adikku nantinya tidak terbengkalai, ku rela mencucurkan dar ah untuk membahagiakan keluargaku.
Pasangan A.R.AMIRUDDIN sebagai seorang pesilat, karateka, aktivis dakwah, mujahid dengan Dra. INDRIATI seorang sastrawati dari soppeng, hidupnya ia habiskan tuk membagikan ilmu tanpa pernah peduli dengan penghasilan yang ia dapatkan dari pekerjaannya itu, meskipun akhirnya ia difitnah, akan tetapi masyarakat telah lebih dulu mengetahui kebaikan yang telah ia berikan dari pada fitnah yang beredar. Begitupun dengan suaminya yang juga sastrawan, puisinya selalu terdengat di kota pinrang pada saat 17 agustusan, di setiap kecamatan dan desa. Pasangan yang perfect, seorang suami membuat puisi dan istrinya mengajarkan tentang cara penyebutan dan penghayatan kepada puisi itu.
Beginilah kehidupan yang kujalani, semuanya punya warna tersendiri, dan aku tak boleh terkungkung hanya dengan satu warna dan melupakan warna yang lain, setidaknya aku masih punya beberapa orang yang bisa memberiku motivasi untuk tetap berdiri sampai nafasku yang terakhir berhembus di medan perang “ALLAHUMMA FASYHAD”, di bawah ini beberapa motivasi yang beberapa hari lalu masuk ke dalam ponselku. TERIMA KASIH SEMUANYA, berilah aku senyuman, maka nyawa kan kupersembahkan padamu jika kau membutuhkannya, dan jagalah kepercayaan akan persaudaraan yang tlah kuberikan, karna persaudaraan adalah saliing tolong-menolong, bukan untuk mencari bawahan yang bisa kita perintah dan tindas, sebagaimana yang pernah aku alami sebelumnya. Tapi... aku tidak akan menatap kaca spion itu dengan berlama-lama, aku hanya melihatnya sesaat kemudian memacu gas untuk mencapai garis peradaban.
"kebimbangan ada dalam dirimu, temukan ketenangan bersama Allah dan semua pertanyaan akan terjawab dan ragu akan menjadi yakin, kita hidup untuk Allah, berjuanglah" (My sister in the paradise IQ)
"Hati hanya satu, ia adalah salah satu organ tubuh yang berukuran kecil, so... milikilah hati seluas dunia, agar engkau bisa mencintai seluruh makhluk bumi"(My friend in the FLP)
"kita ini hanyalah seorang pengembara yang sedang berkelana mengikuti pundak umurnya, mengarungi hari dan bulannya, ia lalui siang dan malam, dan ia dapati dirinya semakin jauh dari kehidupan dan semakin dekat dari kematian, tahukah kalian, kalau umur ini hanyalah titipan, dan kehidupan yang kekal abadi berada di negeri akhirat"(My brother in the DOMPET DHUAFA)
"semangat tinggi kadang membuatmu gegabah, mungkin terlalu melangit dan melupakan bumi tempat berpijak, melankolis, halus perasaannya dan mungkin itu yang menyebabkan kadang tidak tega, bergantung pada orang lain, ukhuwah sesuai iman kita, kualitas ukhuwah menggambarkan keimanan kita, tengok kembali jaring ukhuwahmu"(My sister in the dream)

DIA YANG KINI BERSERAKAN


Makassar 28 Juni 2010
Singa padang pasir



Dia yang kini berserakan
Di kepala tanpa ideologi keilmuan
Di cekam untuk sebuah pembenaran
Dari tiap butir kesalahan

Dia yang kini berserakan
Dalam ruang kesepian
Dan hanya terkungkung oleh ego tujuan
Dari para pengusung kejahatan

Dia yang kini berserakan
Dengan segala keserakahan
Dalam arus perputaran
Di tengah-tengah roda kehidupan

Dia yang kini berserakan
Dan kaupun tak tahu apa yang berserakan
Dia adalah sajak, karya, ekspresi, hujjah, dalih serta pengetahuan
Dan dia seringkali menjati tumbal pembenaran

AJAL SEBELUM DATANG


A.R. AMIRUDDIN
(UNTUK ISTRIKU DI ALAM SANA)




ajal
sepertinya semakin mendekat
setelah dua tahun lewat
aku di grogoti kanker usus stadium empat

ajal
adalah tamu
yang tak mungkin kuhindari
tamu yang tak tahu basa-basi
dan tak kenal kompromi

ajal pelaksana eksekusi
yang taat pada waktu
tak mau buru-buru
tapi tak pernah telat walau sesaat

ajal
adakah pilihan lain
kecuali menunggumu
didepan pintu
dengan setiap tawakkal
atas segala amal
dan dosa-dosaku

ajal
kau tahu apa yang paling kudambakan
menjelang detik-detik kedatanganmu
ampunan dari Tuhan
doa dari keluaraga
dan simpati dari teman-teman

ajal
jemputlah kapan saja
pada saatnya
toh kita bukan seteru
kita adalah sekutu
yang mestinya sudah kenal
sejak dari awal

ajal
sebelum kau datang
perkenankan aku bilang
selamat pagi matahari
selamat malam rembulan
aku cinta kehidupan

Jumat, 28 Mei 2010

TERSESAT DALAM PENCARIAN


Makassar 29 mei 2010
singa padang pasir




Telah kuitari tiap sudut padang sahara
Mencari asal suara bidadari
Yang telah mematri janji
Tuk membawaku ke kediamannya

Tenagaku telah terkuras semua
Setelah padang sahara kuitari
Dan jejaknya tak jua kudapati
Kecuali lelah dan dahaga

Dimana harus kumencari
Seteguk air pelepas dahaga
Saat kuterdampar di dalamnya
Bersama galau wajah sang bidadari

Nafasku kini tinggal sisa-sisa langkah
Langkah yang berjalan dengan gontai
Tubuhku hanya terbungkus kata lunglai
Tinggal menunggu datangnya penjemput arwah

Datanglah wahai penjemput arwah
Naikkan aku diatas tandu yang kau bawa
Bawa aku tuk bertemu dengannya
Meski tubuhku akan kau derah

Senin, 24 Mei 2010

BANGUNAN KEPERCAYAAN


Makassar 24 mei 2010
singa padang pasir





Terbingkai dalam tawa
Sebuah kenangan lama
Berkisah tentang sepasang mata
Yang senantiasa bersama

Tak ia biarkan DEBU mendekatinya
Karna Tlah ia bentengi denga kaca
Agar ia tetap bertatap muka
Tanpa debu bergerilya

Indah nian kisah mereka
Tonngak ia tancapkan sekeras baja
Tonggak yang terbuat dari serpihan rasa percaya
Tiada goyah walau di hempas berita

Sangat Kokoh pondasi mereka
Pondasi dari Iman dan Taqwa
Menopang bangunan persahabatan di atasnya
Tak kan pernah lekang dengan bergantinya masa

Minggu, 23 Mei 2010

DIMANA KEMANA


Makassar 23 mei 2010
Singa Padang Pasir



Mata ini sayup
Tak melihat datangnya rayap
Pada malam yang kian gelap
Datang saat mata terlelap

Dimana...
Bayangmu tlah berubah rasa
Nafasmu tak lagi menghembuskan asa
apa karna rayap menggrogoti semua

Kemana...
Lelah mataku memburu kecepatan cahaya
Cahaya tubuhmu yang tengah bergelora
Berlalu,,, meninggalkan semua

Di sini aku berdiri tegap
Menjagamu di balik kata siap
Agar kau tak lagi merayap
Hanya karna takut pada rayap

Rabu, 19 Mei 2010

AKU ADA UNTUKMU


Makassar 20 Mei 2010
singa padang pasir




Waktu tak mau berkawan denganku
Bahkan lidahnya selalu ia julurkan tuk menghinaku
Aku pun tak peduli dengan sikapnya yang tak setuju
Karna ku termenung menunggu datangnya imajinasiku

Sampai kapan kau menunggu
Imajinasi yang tak kunjung memberi harapan
Tidakkah kau merasa engah menantinya
Kedatangannya adalah ketidak pastian

Sabar kawan
Ia akan datang membawa secuil inspirasi
Lalu ku akan menorehkannya diatas perut kertasmu
Dengan mutiara kata-kata

Lihatlah kawan
Imajinasi telah datang
Janjiku kan kupenuhi
Kan kutuangkan mutiara kata ini ke dalam perutmu

Lihatlah kawan
Ia telah kembali
Aku pun tak akan pergi meninggalkanmu
Karna aku selalu ada untukmu

(puisi untuk syair yang beberapa hari tak kutemani)

Selasa, 18 Mei 2010


suara ayam terdengar begitu merdu di pertiga malam, menenggelamkan kesunyian malam yang kian mencekam, satu batalyon nyamuk juga tak mau kalah, datang dengan suara seperti helikopter, menyerang dengan rudal andalannya, aku tak bisa menghindar, aku hanya bisa menyaksikan ia menhisap darahku, biarlah... mungkin hanya ini yang bisa aku sedekahkan sebagai anak jalanan. tapi aku adalah hamba yang patut tuk berbangga dan bersyukur atas apa yang diberikannya, rumah tempat peristirahatanku adalah rumah yang begitu besar, selalu ramai orang berkunjung di tempatku, meski rumahku tak mempunyai dinding, namun atapnya begitu kuat nan kokoh, sehingga aku dan keluargaku bisa nyaman berada di bawahnya.
sebut saja namaku jumiati, aku adalah seorang anak gadis berusia 8 tahun, dengan usia yang masih dini ini, aku sudah harus turut ambil bagian untuk membantu orangtua mencari sesuap nasi, agar bisa bernafas panjang dalam area kehidupan ini, bagi orang mungkin ini adalah sesuatu yang kurang etis, anak dengan usiaku harus bekerja keras untuk mencari makan. aku juga tak mau terus-terusan menyalahkan takdir dan menjadikannya kambing hitam, karna masih ada kambing putih yang indah dan harus kita rawat baik-baik.
malam itu terlihat kendaraan tak henti-hentinya lalu-lalang, tidak seperti hari biasanya, oeya hampir lupa... kan ini malam minggu, malam paling dinanti-nanti oleh pasukan anti kebenaran, kerjaan mereka hanya menunggu waktu pergi melewatinya, waktunya ia habiskan untuk mengumpulkan dosa, dan salah satu tempat yang sering ia jadikan markas adalah di kediamanku, bukan cuma sekali, tapi tlah berulang kali kumelihat sepasang kekasih duduk berdampingan layaknya suami istri "gak malu kali yah".
malam terus berlalu, mataku belum jua bisa terpejam, dinginnya malam menembus kedalam tulang rusukku, seluruh badanku pun terasa kaku, namun darahnya masih bisa dinikmati oleh DENSUS 68 (NYAMUK), Dari kejauhan nampak sedikit cahaya dari celah-celah langit, sesaat itu juga embun berjatuhan dan aku membayangkan diriku tengah berada di negeri sakura sementara menikmati butiran salju.
"Pip...."
"Astaghfirullah". suara klakson itu membuat khayalanku buyar, padahal baru saja ku membangun sebuah istana impian di negeri sakura, tiba-tiba mobil itu datang dengan bunyi klakson yang super dahsyat, suaranya tlah merobohkan istanaku.
detik-detik waktu begitu terasa berlalu, cahaya fajarpun semakin jelas diatas sana, cahayanya membuat hantu kabur kembali ke tempatnya.
pagipun datang, memberi setetes kehangatan yang tak seperti biasanya, pirasatku semakin membuncah 'adakah hari ini seribu malaikat datang menghampiriku', kendaraan semakin padat, bagaikan kereta yang tak ada putus-putusnya, seperti biasa, dipagi hari senantiasa kupanjatkan doa kepada yang maha pengatur rezki, "Ya Allah.. mudah-mudahan rezkiku hari ini lebih banyak dari yang kemarin"
bersambung.........

Sabtu, 15 Mei 2010

MERANGKAI KENAPA


Makassar, 15 mei 2010
Singa Padang Pasir




Kenapa kuterdiam
Di lingkaran cahaya kelam
Padahal bias cahaya menyorot di dibelakang
Kenapa kutenggelam
Dalam belenggu angan-angan yang makin buram
Padahal Kenyataan menanti di sebelah ruang
Kenapa kumelamunkan
Setitik harapan yang tak tentu menjadi kenyataan
Padahal banyak Impian yang tlah kutorehkan
KENAPA, KENAPA DAN KEANAPA
Kenapa pula matahari terbenam
Saat kuterkungkung dengan suasana malam
padahal hangatnya kuharapkan datang
Kenapa jua Rembulan harus padam
Saat ku ketakutan dengan suasana malam yang mencekam
Padahal cahayanya begitu terang
Kenapa jua pelangi tak lagi mengitari awan
Saat kubosan melihat warna kehidupan
Padahal warnanya bisa menyejukkan pandangan
KENAPA, KENAPA DAN KENAPA

Kamis, 13 Mei 2010

WAJAH KOTAKU


Makassar, 14 mei 2010
Singa Padang Pasir



Sorak sorai terdengar begitu menggema
Di tiap sudut ruas jalan kota
Meneriakkah bisikan suara jiwa
Dengan ekspresi diam sampai memberonta

Semua berjuang atas nama hak & kebebasan
Namun kadang tersusupi oleh ambisi tak terkendali
Siapa yang patut disalahkan?
Semuanya tenggelam dengan eksotis pertunjukan ini

Bukan lagi sebuah rahasia
Gedung2 birokrat di hancurkan massa
Darah berceceran di sekujur tubuh mahasiswa
dan di bungkus rapi oleh isu media

Kasat mata bergelora dengan teriakan "ini adalah kekerasan"
Namun mereka berkata "ini adalah sebuah ekspresi seni"
Semua takkan terhentikan
Kecuali jika mereka ingin menyemai diri

Akankah ekspresi harus begini
Mewarnai hidup dengan dara murni
Bukankah hidup akan indah dengan celupan hiasan pribadi suci
Tiada kata dan alasan lagi tuk mengeksploitasi

Rabu, 12 Mei 2010

TANGIS IBU PERTIWI


Makassar, 13 Mei 2010
Singa Padang Pasir



Kemerdekaan tlah diraih
jauh hari dengan bayaran darah
Serta desah nafas yang terengah
Dari jiwa para ksatria tak bertuah

Namun pertanyaan menghampiri setiap raga
Masih merdekakah kita?
tidak, Merdeka tinggal kata pelipur lara
Yang terucap dari mulut yang hanya pandai bersua

Mengapa demikian?
karna Di rel kemerdekaan
Poliitikus mencoreng nama baik pemerintahan
Sejarawan tak lagi dapat menyikap tabir kebenaran
Sedang penguasa sibuk mencari ketenaran

Lalu, masihkah kita berleha diatas kata merdeka
Tidak saudara
Merdeka harus kita rampas dari tangan para penjarah dan penguasa
Agar Ibu Pertiwi tak lagi meluapkan air mata

Tapi, pipi Ibu pertiwi telah terlanjur basah dengan air mata
Mengenang perjuangan putranya yang telah gugur saat mengusir belanda
Dan pipi itu masih basah oleh genangan air mata
saat putranya berleha di atas pujian merdeka
tak peduli dengan para penjarah, perampas dan penguasa.
yang merampas lebih dari pada penjajah belanda

Sabtu, 08 Mei 2010

SATU KEADILAN BUAT IBU


Makassar, 19 April 2010
(singa padang pasir)




Saat embun menetes diatas dedaunan
Berirama, berkilau,serta memecah kesunyian
Dengan membawa daftar titipan pesan
Pesan buat satu tuntutan keadilan
lalu…setiap mulut akan bertanya
adakah keadilan masih berjaya?
saat iba tertelan masa, saat kasih pergi bersama tawa
Biarlah fakta yang akan berbicara
ingatlah….
oleh kalian yang tlah menyelami kesuksesan
kesuksesan yang berawal dari kepedihan
kepedihan yang tak akan di mengerti oleh ilmuwan dan sejarawan
kecuali mereka yang paham akan arti kelahiran
Cobalah merenung sejenak….
Saat gemuruh terdiam bersama kelahiran
senyum2 centil telihat jelas dari raut muka kerabat dan kawan
berharap pada bocah, akan datangnya sebuah kemerdekaan
kemerdekaan tanpa virus perbedaan.
lalu…dimanakah letak keadilan?
apa ia berada di genggaman para ikhwan
tanpa paham akan sakitnya kehamilan
ataukah keadilan berada di gengngaman sosok yang melahirkan ikhwan (ibu)
yang telah mengajarkan banyak arti kehidupan
Ibu…
Engkau adalah sosok bidadari dunia
Selalu tampil mempesona dalam canda, tawa dan sapa
Engkau adalah orang pertama menggoreskan sebuah peradaban
mengajarkan lebih banyak hal, daripada para ilmuwan
tersenyumlah…
Karna kau telah mengukir sejarah
walau harus bersimbah darah
dengan hembusan peluh kesah
sebagai wujud cinta kasih terindah

PILIHAN


Makassar, 5 Mei 2010
(Singa Padang Pasir)




Alangkah indah edelweiss di bibir bebatuan gunung
Disiram dengan air terjun yang deras
Bunganya mekar dan membuat pendaki tercengang
Aura eksotis menguap dari celah batu-batu cadas
Tapi tahukah kita
Ditengah keindahan terdapat kejelekan
Kebahagiaan masih bisa tersusupi kesedihan
Kesuksesan selalu di hantui kegagalan
Kekayaan tak bisa menghindari kefakiran
Tapi tahukah kita
Madu termanis dijaga oleh lebah yang siap menyengat
Bunga mawar di kelilngi oleh duri
Sungai yang tenang justru membahayakan
Angin tenang tengah malam membuat bulu kuduk berdiri
Hidup ini merupakan pilihan
Memilih yang baik atau terbaik
Menjadi Penguasa atau pengayom
Menjadi pemenang atau pengecut
Setiap pilihan tak selamanya indah
Semua mempunyai konsekwensi tersendiri
Namun pemenang adalah mereka yang dapat memilih
Dan tak lari dari kepedihan yang mengiringi
Siapkah kita menjadi pemenang
Mimikul beban yang kian bertambah
Atau mental kita hanya mental pengecut
Lari dan membuang segala beban di pundak kita
Tentukan pilihan kita
Disetiap detak jam yang berdetak
Yang berlalu dan tiada akan kembali
Dengan gelar Winner or Looser
Dan hanya pemenang yang akan tersisa

Rabu, 05 Mei 2010

UNTUK SESUNGGING SENYUMAN


Makassar, 5 Mei 2010
(singa padang pasir)





Ini adalah suara dari lorong hati yang tersuci
Mengirim kabar mlalui bait-bait syair suci
Untuk mutiara yang kini entah kemana
Akankah wujudnya masih ada dan akan kembali
Ada apa denganmu
Pergi berlari mengejar hembusan angin
Padahal angin selalu membelai rambutmu dibalik kerudung
Ada apa denganmu
Kabur dengan mengendarai rasa ragu
Padahal keyakinan telah datang menjemputmu setiap saat
Kemana semua janji perubahan yang tlah terlontar di kedua bibirmu
Akahkah ia hanya janji manis berbalut rasa munafik
Atau ia benar-benar janji suci yang kan kau tepati
Kemana sosok yang dulu ceria dan bersemangat
Apakah ia telah layu terhempas dengan tantangan serta ujian
Ataukah ia menghela nafas untuk semangat yang lebih dahsyat
Kemana, kenapa, ada apa, seandainya
Kata yang sibuk mencari kebenaran serta pembenaran
Ternyata semuanya tlah berubah
Senyum itu, kini sangat mahal tuk di persembahkan
Persaudaraan kini ditindis oleh permusuhan
Kasih sayang menampakkan wujud dendam dan amarah
Pertemuan pun kini terasa enggan
Kembalilah Mutiaraku (adikku)
Syair ini di ukir dengan tinta air mata
Sebagai wujud cinta para Pembina
Bukan maksud tuk memelas
Tapi hadirmu kami nantikan
Bukan maksud merendahkan diri
Tapi senyummu senantiasa dinanti
Namun, engkau adalah nahkoda
Bebas menentukan kemana arah kapal harus berlabuh (di Dermaga kegelapan/dermaga IQ)

Selasa, 04 Mei 2010

MENGAPA


Makassar, 4 Mei 2010
(singa padang pasir)



Kau renggut dia
Saat dewasa mendatanginya
Saat nirwana tersipuh malu padanya
Saat Cleopatra iri melihatnya
Kau megambilnya
Dari sudut peradaban dunia
Dari gubuk pelipur lara
Dari lingkaran cinta sang pencipta cinta
Mengapa…?
Mengapa harus dia
Bukankah masih banyak di luar sana
Wanita indah tanpa busana
Mengapa…?
Mengapa harus dia
Padahal dia baru saja memahat batu impian dunia
Lalu kau datang merusak, mengacaukan suasana
Usahlah kau usik dia yang sedang tertawa
Bersama liukan indah ketulusan para Pembina
Karna dia tak akan Nampak indah di pelupuk mata
Bila rona senyuman dan kedamaian hatinya berubah hampa

Sabtu, 01 Mei 2010

TERBANGLAH


Terbanglah...
Karna kau punya sayap tuk kau kepakkan
Karna kau punya keistimewaan
Karna kau punya Impian

Terbanglah...
Melewati corong pahit kehidupan
Menelisik di setiap jengkal perjalanan
Memandang dunia dari ketinggian

Terbanglah...
Bak elang perkasa yang bebas mencari mangsa
atau merpati yang indah di bawah kuasa tuannya
atau kupu-kupu yang terbang di tempat yang dapat membuatnya bahagia

Terbanglah...
Mengelilingi ruang cakrawala
Mengukir Impian di setiap titik jagad raya
Lalu tersenyumlah dengan keberhasilan beriringan tawa sahabat yang menyapa

(kepakkan sayapmu, kemanapun engkau ingin pergi, tapi ingat... jangan pernah kau robek sayapmu dengan keputus asaan dan jangan kau memberikan sayapmu kepada orang yang tak ingin terbang di atas cakrawala impian, karna itu semua akan membuatmu terdiam dan tak akan bisa kemana-mana, sebelum kau gapai impian yang tlah kau ukir) we will

Rabu, 28 April 2010

KETAKUTANKU








umurku tlah beranjak naik ke tangga 21, sebaga pertanda awal dari kedewasaanku, dan seharusnya segala sesuatu sudah bisa kuhadapi dengan bijak, tapi kenapa… di usiaku yang sekarang malah aku di hantui dengan perasaan takut yang belum pernah kurasakan sebelumnya. dikatakan cobaan? kayaknya bukan deh.
dikatakan ujian? itu sih maybe yes n maybe no.
atau azab kali yah…. “Na’udzu billahi min dzalik”.
lalu kalau ia tidak ada diantara ketiga poin ini.
dia itu berada di posisi mana?, ahhhhhhhhhhhh bingung.
disaat semua orang menganggapku sudah dewasa dan bijaksana, ternyata… semuanya tidak sama dengan apa yang saya rasakan sendiri di dalam sel tubuhku.
kenapa saya harus takut.
padahal saya tidak pernah merasa takut, meski pedang sudah bertengger di ujung leherku
saya juga tidak pernah gentar dengan letupan senjata yang akan menembus dadaku
tapi.. kenapa saya takut kepada dia, bukan karna dia seorang penjagal, bukan karna dia makhluk yang bengis, justru saya takut dengan kelembutannya, saya takut dengan tutur katanya.
sekali-kali saya tidak ingin mendekatinya, tapi saya juga takut tuk kehilangan sosoknya, sosok itu telah memberiku semangat… ketika melihatnya bersemangat kesana-kemari hanya untuk membagi ilmu, bagi orang mungkin ia bukan siapa-siapa, tapi bagiku justru dia itu adalah sosok yang sangat diharapkan ada untuk tampil di zaman ini,
Ia juga merupakan sosok yang membuatku berani tuk bermimpi, tapi kenapa harus dia juga yang datang menenggelamkan apa yang telah saya impikan.
Saat geraknya menyatakan iya, ternyata mulutnya berucap tidak.
Saat geraknya menyuarakan Siap dan bisa, ternyata terdengar nada kecil darinya berucap belum.
yah… mungkin sudah skenarionya kali yah..!!
kan! gak mungkin tuk merubah skenario yang tlah dibuat oleh sang sutradara (Allah), tapi kayaknya kita memang kudu harus bin wajib tuk mengetahui peran kita masing-masing, agar gak ghayru connect nantinya.
Kepada sang sutradara…
Sekarang saya menjadi penakut, takut untuk menyiram dan memupuk apa yang telah tumbuh di gumpalan darah yang bersembunyi di antara tulang rusukku. tapi saya juga takut kalau ia menjadi mati dan tidak akan pernah tumbuh lagi.
Kepada sang sutradara
Maafkan segala kesalahan yang telah diperbuat oleh aktormu ini
karna kami masih pemula dan masih perlu belajar dan belajar tuk menjadi yang sempurna, meski kesempurnaan itu adalah keniscayaan, tapi itulah yang kami impikan.
Kepada sang sutradara
mudah-mudahan sosok itu bisa tumbuh di tempat yang memang pantas untuknya tumbuh, di tempat dimana ia menginginkan tuk tumbuh dan berbagi, bukan tumbuh di tempat pemimpi sepertiku yang begitu tinggi impiannya sampai meninggalkan realitas yang berada dibawahnya. dan ternyata idealitas itu sangat bertolak belakang dengan realitas, harusnya saya menyadari itu sebelum ia mampir dan tumbuh di gumpalan darahku yang polos.
saya akan kembali bercermin, membenahi diri, meluruskan niat, memantapkan hati, mengishlahkan pribadi. dan mensucikan ruh untuk berjumpa denganmu melalui pintu kesyahidan. Allahumma fasyhad

IDEALITAS vs REALITAS


Makassar, 28 April 2010
(singa padang pasir)




Atas nama idealitas
Angan-angan menjadi bagian sains
Harapan tampil tiada mengenal kebuntuan
Mimpi menjadi titik awal kenyataan

Angan-angan diukir dengan tinta emas
Diatas kertas kampas
Melalui tangan-tangan para pelukis
Namun Realitas datang dengan sinis

Harapan menjadi puncak kejayaan
Tanpa mengenal titik kegagalan
Semua tampil perfect di atas lukisan peradaban
Namun Realitas menbuatnya ciut dan berguguran

Mimpi telah hadir bersama rona manis
Berbungkus bias cahaya di setiap ruas
Dengan aroma semerbak merebak di tangkai dan tunas
Namun Realitas datang mencoreng rautnya yang manis

Idealitas..
Ruang ekspresi terluas
Ruang bagi bungkusan mimpi bak cikeas
Dan selalu hadir atas nama damai tanpa aura pesimis
Realitas…

Kungkungan bagi peradaban
Penjagal di ruang impian
Dan selalu hadir membawa berita kematian atas harapan

Sabtu, 24 April 2010

KABAR DARI AL-AQSHA


Makassar, 22 April 2010
(singa padang pasir)




Kepada seluruh makhluk berlabel manusia
dengarlah kabar dari ruh Al-Aqsha
dari serak suara bayi palestina
dari rahim suci para wanita
Di sini, di kota ini
seluruh bayi lahir dengan selendang jundi
kelahirannya disambut dengan letupan senjata api
seakan tiada harapan untuk hidup damai
Di sini, di tempat lahir para anbiya
para wanita dipaksa menjadi janda
suami mereka di renggut paksa
oleh bangsa yang menindas dengan tawa dan canda
Wahai… jiwa muslim yang tersebar di seluruh alam
adakah pernah kalian menyaksikan semangat mereka padam?
tidak saudaraku…. semangat mereka tiada pernah padam
mereka akan selalu berjuang di bawah lentera islam
Wahai.. Makhluk yang mulia (manusia)
adakah kalian punya waktu untuk berpikir dan mengira?
apa yang bisa membuat ruh mereka membara?
tidak saudaraku.. kalian hanya sibuk dengan urusan kalian di dunia
Ohh.. para bayi palestina
jangan bersedih dengan perginya dunia
karna kalian telah lahir dari rahim makhluk lembut nan mulia
yang telah memberikan kalian semangat dan ruh anbiya
ohh.. bocah para pejuang
tetaplah berdiri tegak di medan perang
jangan takut walau tank dan rudal menghadang
kuburkan mereka dengan semangat juang
biarlah , biarkan semua orang tertawa
melihat darah kalian membasahi bumi palestina
sampai mereka memahami peran wanita (ibu)
yang mencetak para mujahid di seantero jagad raya

Mencari Titik Keadilan


Makassar, 21 April 2010
(singa padang pasir)





Pelangi…
Saya iri melihatmu
Engkau punya warna-warni yang dapat membuat orang berdecak kagum
Sedang aku terkungkung dengan satu warna

Elang…
Saya sangat iri padamu
Kau punya sayap yang dapat membuatmu keliling dunia
Sedang aku tak punya dan tak bisa kemana-mana

Hai manusia…
Sadarlah,sadarlah dari khayalanmu
Perhartikan warna yang ada di tubuhku
Hanya ada enam warna, dan tak akan bisa bertambah
Ia sudah ditakdirkan demikian
Sedang kau, kau bisa bebas mengukir warna dalam hidupmu
Dan dengan warna yang engkau ukir,engkau bisa membuat orang lebih terpesona
Tapi… sudahlah, engkau masih takut untuk mengukir warna

Hai manusia…
Bangunlah dari mimpimu
Engkau hanya kagum dengan sayap gagah perkasaku
Tapi, pernahkah kau berpikir bagaimana elang tanpa sayap
Masihkah ia disebut gagah perkasa?
Masihkah ia bisa keliiling dunia?
Sedang kau, kau bisa mengelilingi dunia walau tanpa sayap
Karna kau mempunyai otak brilian yang jauh lebih baik dari sayap gagah perkasaku
Tapi… sudahlah, engkau masih takut dengan mulut para bangsawan

Di manakah letak kebebasan?
Kebebasan yang tak di otak-atik oleh nafsu kemunusiaan
Kemanusiaan yang kadang menjadi dalih pembenaran
Akankah ia masih memberikan sebuah harapan?
Atau kebebasan hanyalah sebuah ambisi

Ambisi pribadi dan tak pernah bisa dimengerti
Berbau islami, tapi menyayat hati
Pelangi dan elang.., lihatlah,Aku akan belajar tegak di hadapan penguasa

Roda zaman tak akan pernah berhenti berputar
Berputar tanpa harus menjadi makar
Dan aku berjanji untuk tegar
Meski semua makhluk bulmi akan mencibir
(jadilah dirimu sendiri, tak peduli apa kata orang, asal tetap di bawah landasan syar’i)

Minggu, 18 April 2010


Makassar, 18 April 2010

Embun pagi berirama dengan gesekan rerumputan
Berkilau membawa aroma kesejukan
Menitipkan daftar titipan pesan
Pesan untuk satu tuntutan keadilan
lalu…
setiap mulut akan bertanya
adakah keadilan masih berjaya?
saat iba tertelan masa, saat kasih pergi bersama tawa
Tinggallah fakta yang akan berbicara
ingatlah….
oleh kalian yang tlah menyelami kesuksesan
kesuksesan yang berawal dari kepedihan
kepedihan yang tak akan di mengerti oleh ilmuwan dan sejarawan
kecuali mereka yang paham akan arti kelahiran
Cobalah merenung sejenak….
Saat gemuruh terdiam bersama kelahiran
senyum2 centil telihat jelas dari raut muka kerabat dan kawan
berharap pada bocah, akan datangnya sebuah kemerdekaan
kemerdekaan tanpa virus perbedaan.
lalu…dimanakah letak keadilan?
apa ia berada di genggaman para ikhwan
tanpa paham akan sakitnya kehamilan
ataukah keadilan berada di gengngaman para pencipta ikhwan (ibu)
yang telah mengajarkan banyak arti kehidupan
Ibu…
Engkau adalah sosok bidadari di dunia
Selalu tampil mempesona dalam canda, tawa dan sapa
Engkau adalah orang pertama menggoreskan sebuah peradaban
mengajarkan lebih banyak hal, daripada para ilmuwan

Rabu, 14 April 2010

INDAHNYA PERPADUAN


Hamparan langit diatas sana bernama IBNU QOLBY
Bulan yang terang benderang itu adalah para Pembina
Sedangkan kerlap-kerlip bintang dengan kilau yang memukau adalah Anak2 IQ
Ibaratnya, hamparan langit itu tidak akan Nampak indah di pandang mata, saat ia murung sendirian dengan kegelapan, tanpa cahaya rembulan dan kerlip bintang.
Begitupun langit, bagaimanapun warnanya, ia bukanlah hal yang spesial, meski ada sang rembulan di sampingnya, namun tak ada bintang meramaikan.
Sebaliknya juga demikian, langit tetap terasa sunyi, meski bintang bersanding dengannya, akan tetapi rembulan tidak muncul untuk melengkapi.
Akan tetapi langit itu akan menjadi pemandangan yang indah mempesona dan memukau pandangan setiap orang yang memandangnya, saat ia berpadu bersama cahaya sang rembulan malam, dan diapit oleh kerlip bintang disekitarnya, kalau sudah demikian, maka mata siapa yang dapat bertahan untuk tidak memandangnya.
Pesan seekor singa untuk kita semua
Marilah kita senantiasa bersatu padu dalam lingkaran keislaman, saling menguatkan, saling mengingatkan akan kesalahan dan kebaikan, agar semua makhluk yang ada di sekeliling kita dapat merasakan dan menyaksikan panorama indah dari perpaduan Langit IBNU QOLBY,, Cahaya Rembulan PEMBINA, dan Kerlip bintang ANAK-ANAK IBNU QOLBY.
Keep hamasah…..
Mari kita buktikan pada dunia, kalau kita ini beda!!

“BE THE BEST, BUT… DON’T FEEL THE BEST”

INDAHNYA PERPADUAN

Hamparan langit diatas sana bernama IBNU QOLBY
Bulan yang terang benderang itu adalah para Pembina
Sedangkan kerlap-kerlip bintang dengan kilau yang memukau adalah Anak2 IQ
Ibaratnya, hamparan langit itu tidak akan Nampak indah di pandang mata, saat ia murung sendirian dengan kegelapan, tanpa cahaya rembulan dan kerlip bintang.
Begitupun langit, bagaimanapun warnanya, ia bukanlah hal yang spesial, meski ada sang rembulan di sampingnya, namun tak ada bintang meramaikan.
Sebaliknya juga demikian, langit tetap terasa sunyi, meski bintang bersanding dengannya, akan tetapi rembulan tidak muncul untuk melengkapi.
Akan tetapi langit itu akan menjadi pemandangan yang indah mempesona dan memukau pandangan setiap orang yang memandangnya, saat ia berpadu bersama cahaya sang rembulan malam, dan diapit oleh kerlip bintang disekitarnya, kalau sudah demikian, maka mata siapa yang dapat bertahan untuk tidak memandangnya.
Pesan seekor singa untuk kita semua
Marilah kita senantiasa bersatu padu dalam lingkaran keislaman, saling menguatkan, saling mengingatkan akan kesalahan dan kebaikan, agar semua makhluk yang ada di sekeliling kita dapat merasakan dan menyaksikan panorama indah dari perpaduan Langit IBNU QOLBY,, Cahaya Rembulan PEMBINA, dan Kerlip bintang ANAK-ANAK IBNU QOLBY.
Keep hamasah…..
Mari kita buktikan pada dunia, kalau kita ini beda!!

“BE THE BEST, BUT… DON’T FEEL THE BEST”

Kamis, 08 April 2010

Rembulan Cahaya Ilahi


Suara merdu bersua di sela rerumputan
Mengisi kekosongon hati dalam peraduan
suara hewan malam pun saling bersahutan
Mengiringi perantauan dalam samudera keilmuan

WaHai rembulan yang terang benderang
Lihatlah kami yang sedang riang
Berkumpul dengan semangat juang
Untuk meraih angan-angan yang senantiasa terngiang

Wahai rembulan malam
Jangan kau berwajah muram
Dengan mata awas seakan mencekam
Membisukan segala cita-cita bak makam

Wahai rembulan suci
Berapit kerlap bintang murni
Terangilah segala tekad kami
Menuju ridho sang Rabbi
Melalui ruang IBNU QOLBI

Minggu, 04 April 2010

RUMAH MIMPI


Bangkitlah dan bergerak dari rahim ibu pertiwi
Melaju bersama kibasan anging mamiri
Menepati segala janji
Janji yang tlah terpatri dalam hati

Jangan engkau diam dengan kegalauan
Singsingkan lengan baju kalian
Meraih segala angan-angan
Angan-angan yang akan jadi kenyataan

Bangunlah tiang-tiang dari mimpi-mimpimu
Karna pondasi dari mimpi itu sudah lama menunggu
Menunggu datangnya para buruh
Walau dengan riuh yang bergemuruh

Mimpi adalah pondasi dari sebuah kenyataan
Lalu gerak akan menjadi tiang-tiang penyanggah keeberhasilan
Dari atap rumah kenyataan dan keberhasilan
Dan duduklah didalam bersama dengan kesuksesan

Minggu, 28 Maret 2010

KAWAN TANPA SAINGAN


Hujan deras mendera diperempat malam
Menghempas dan menggugurkan dedaunan
Lampu neon yang menjadi teman kegelapan
Mati bersama kilatan awan
kegelapan menyebar ketakutan
Ketika pikiran menelisik keadaan
Bagiku....
Hidup menyendiri adalah sebuah pilihan
Pilihan yang entah didalamnya kebaikan pun keburukan
Tlah kulalui sekian putaran roda kehidupan
Dengan berbagai cobaan dan ujian
Namun, Tak kudapati sosok kawan
yang dapat mesra bak ikan peraduan
Temanku adalah lawan berselimut kawan
Bertutur lembut dihadapan
Dibelakang menghujat dengan cacian
Kucoba menarik garis simpul keadilan
bahwa menyendiri adalah sebuah kebaikan
Tapi pernyataanku berbentur dengan keadaan
saat derita datang bergiliran
Ku kayuh sepeda di setiap jalan
Menerobos lorong terjal bebatuan
Mencari teman yang mau berkawan
Dan kutemui di sebuah lorong keadilan
Saat melihat wajah muda cantik nan tampan
Semangat belajar didalam pengajian
Bukan di balik selimut kain kafan
Tapi disamping pekuburan
Anak-anak Ibnu Qolby adalah kawan tanpa saingan
Akan menoreh sebuah peradaban

Sabtu, 27 Maret 2010

Suara Pemulung


Berirama dengan suara kresek
Tak peduli ia busuk
Akan kami tenteng walau dengan sesak

Kasur empuk itu bernama koran
Bantalnya terbuat dari gulungan karton
Berselimut karung pungutan
Berumah bumi dengan atap awan

Kami pemulung berharap pengakuan
Dari entitas masyarakat sampai pemerintahan
Kami hanyalah pemulung jalanan
Mengais sampah demi sesuap nasi dan jajanan

Kami tak butuh iba dari mata munafik
Terlihat sedih, namun berpenyakit
Mendekat saat butuh tapak jejak
Dan pergi bersamaan hilangnya sulit

Tak perlu kami iri dengan para pejabat
Karna mereka kenyang dan nyenyak di pembaringan
Cukuplah mereka datang melayat
Saat pemulung semua berguguran

Selasa, 26 Januari 2010

GURUKU DALAM BERTARUNG


Makassar, 20 januari 2010
Aqsa Ahmad Fikry Al-Qusyairy


Ku tulis sebuah sajak mungil
Sajak dari bocah kecil
Yang kadang merengek
Saat di gertak

Ku coba tuk ungkap fakta
Fakta yang tak semua orang tahu
Hanya kau dan aku
Yang tahu

Bayangmu selalu bersemayam di dadaku
Beriring denyut jantung
Bak detik waktu
Di pelupuk kayu

Engkau tlah mendidikku
Dengan segala pengetahuanmu
Tapi, Kadang ku bertanya di hela waktu
Apa yang kau inginkan dariku?

Suaramu terdengar lambai
Saya butuh pejuang
Saya butuh petarung
Saya butuh pemberani

Engkau keluar setiap hari
Mengharap rezki dari maha suci
Tapi, kadang ku bertanya dalam hati
Kenapa engkau tak pernah lalai?

Mulutmu hanya berucap beberapa kata
Aku punya beberapa jundi
Akan membela negeri
Akan berjuang sampai mati

Sosokmu sangatlah unik
Tegar dan pemberani
Tak pernah terlihat sedih di wajahmu
Walau ku tahu
Bahwa engkau begitu lelah

Bagiku engkau adalah singa
Akan menerkam orang yang membuatku tak berdaya

Bagiku engkau adalah jundi
Menerobos segala duri

Bagiku engkau adalah mutiara
Berkilau di tengah kebobrokan dunia

Bagiku engkau adalah pelita
Senantiasa Bercahaya di setiap gelap gulita

Bagiku engkau adalah malaikat
Selalu ada dan dekat

Engkau tlah mengajariku bertarung dan berjuang
Sebagai Wujud dari cita sucimu

Impianku di masa depan
Jasadku akan kau ambil dari medan juang
Saat utuh atau berserakan

Itu semua adalah sebuah kepastian
Kan ku jemput dengan keberanian

Rabu, 06 Januari 2010

Pencarian Jati Diri


Keluarlah...
Berjalan ataupun berlari
Tapakkan kakimu di seluruh belahan bumi Nusantara
Hisaplah...
Semua madu ilmu di setiap tanah yang kau tapaki
Resapi...
Irama yang indah dari setiap hentakan kaki
Rangkullah setiap kawan yang kau temui di jalan
Lalu pekikkan takbir
Sebagai awal dari perjuangan.