Minggu, 14 Juni 2009

Ia kan berlalu



Matahari tengah membakar bumi, namun tak satupun dari mereka yang sadar, mereka terbuai oleh senda gurau, mereka tiada menyadari berlalunya waktu tanpa peningkatan kualitas, hidup ini kian terpuruk, ingin rasanya kupejamkan mata ini tuk selama-lamanya, agar ia tak lagi melihat kemunkaran merajalela di hadapannya & seorang hamba hanya bisa melotot tanpa bisa berbuat apa-apa. Ingin rasanya kututup telinga ini tuk selama-lamanya, agar ia tak lagi mendengar bising cacian di mana-mana yang memecahkan gendang telinga, agar tak lagi larut oleh kata tanpa makna & mendengar kalimat-kalimat murahan. Ingin rasanya
ku bungkam mulut ini tuk selama-lamanya, agar ia tidak ikut menikmati ucapan murahan itu, akan tetapi di sisi lain hamba Allah ini menyadari akan nikmat yang telah di amanakan kepada manusia ini harusnya di syukuri, tapi mengapa keadaan ini bergejolak bertumpu pada papan yang sama!!!

1 komentar:

  1. Diam dalam kemungkaran?
    Diamnya SETAN itu. I believe akhi, nt bisa sepertu Umar.
    Man ra'a minkum munkaran, falyughayyir biyadih....dst

    BalasHapus