Minggu, 28 Juni 2009

CACIAN TAK BERUJUNG


malam begitu terjal, keindahan nampak di seluruh penjuru langit, malam selamanya indah, walau tak ada rona sang rembulan yang bersinar, malam akan selamanya indah, walau tanpa kerlap-kerlip bintang menghiasi cakrawala, semuanya akan selamanya berwarna, walau yang tanpak di permukaan adalah hitam kelam, tapi bukankah itu juga sebagian dari warna.
kutahu bahwa selamanya malam akan menjadi sesuatu yang begitu indah, dan semua orang juga tahu itu, tapi adakah di antara kita yang tahu hati seorang hamba? hati yang kadang gersang, tapi orang tidak berangggapan demikian, malam ini di tengah-tengah keindahan terdapat hati yang berteriak, meronta, meminta akan datangnya sebuah keadilan, sebenarnya dia hanya objek dari sang pemilik hati, ia adalah seorang hamba yanga tegar perawakannya, sosok yang tak kenal lelah, sosok yang takkan pernah sedih dengan datangnya kematian, ia juga sebenarnya hanyalah objek dari para pencaci.
harinya takkan pernah lepas dari cacian dan hinaan, dia sebenarnya marah dan ingin berontak, tapi hati dan perasaannya memaksanya tuk diam, diam dan diam, ia kasihan kepada sang pencaci yang merasa dirinya kuat dan besar dengan mencaci saudara mereka, ia juga bersyukur kepada para pencaci, yang dengan caciannya akan mengantarkannya menuju tangga-tangga ujian dan akan membukakan investasi-investasi baginya di akhirat. sekarang ia mulai sadar bahwa cacian ini takkan pernah berhenti,kecuali dengan gelar syahadah. tetap tegar... biar Allah yang menjadi penilai bagi segala amal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar