Senin, 31 Mei 2010

KENANGAN DAN HARAPAN


Malam kian larut, kutatap panah yang menancap didinding kantor, ia berputar melewati angka-angka, berlalu dan terus berlaru, pikiranku ikut berputar mengikuti putaran anak panah itu, namun... haluannya saja yang berbeda, pikiranku berputar ke belakang, mengingat... detik-detik sebelum arwah Guru Taluladan terbaik yang pernah aku kenal (My mather), pergi tuk selamanya, sekitar 2 tahun silam.
Saat itu aku duduk disampingnya, menatap wajahnya yang perlahan-lahan susah tuk di kenali, karena penyakit kanker usus yang ia derita semakin parah dan telah memasuki stadium empat, entah... apa yang kupikirkan, ku berdoa agar Allah secepatnya membawanya ke taman Syurga, agar ia tak lagi merasakan penderitaan. Akhirnya doaku pun terkabul.
“Nak, tolong ambilkan saya kertas dan pulpen”, suaranya terdengar semakin sayu, sementara matanya memandangiku tajam, seakan ada pesan penting yang ingin ia sampaikan
Tanpa berpikir panjang kuambil tas kuliahku, di dalamnya terdapat binder yang tak pernah aku tinggalkan kalau aku keluar dari kampus atau sedang di kampus.
Kusodorkan buku itu padanya, tetapi mataku tak ingin melepaskannya, hari itu jika saja kita sebagai manusia diperbolehkan tuk berandai, maka aku ingin nyawaku di tukar dengan nyawanya, ia memang sosok yang bijaksana, setiap kata yang terucap dari bibirnya adalah pesan kebenaran buatku.
Telah selesai ia menuliskan pesan itu, lagi-lagi matanya mengeluarkan butiran-butiran mutiara, hingga pipinya basah, di selah-selah kesedihannya, ia tetap saja mencoba melemparkan senyuman kepada kami semua.
“Ada apa nak?” seorang pejuang datang bertanya yang tak lain adalah ayahku
“Ini, beliau punya pesan” sambil kusodorkan kertas itu kehadapannya.
“pesanku yang terakhir : Aku ingin keluar melihat orang banyak, ajalku sudah ada di rumah, kalau saya tidak sampai di rumah, sampaikan salamku sama aji”
Hanya itu pesannya yang terakhir sebelum ia pergi bertamasya ke taman syurga, setelah sekian lama ia hanya bisa menciu aroma obat-obatan serta teman-teman yang juga terbaring di RS itu.
Dokter pun datang dengan kalang kabut, mencoba menyuntikkan cairan ketubuhnya, dan ternyata cairan itu malah keluar melewati bekas-bekas suntikan sebelumnya, aku tak lagi bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa memberikannya senyuman terakhir, serta penghormatan dengan mencium tangan, pipi dan kakinya, agar ia kelak mengingat anaknya ini, inilah yang Allah kehendaki.
Malam semakin larut, sekarang anak panah tertancap di angka 2, kembali ku mencari jati diri yang tak tahu kemana, jati diripun kutemukan, namun aku belum tahu jati diri ini harus kubawa kemana?, belum juga tuntas ku melabuhkan kapal jati diriku, ku teringat lagi akan Singa yang mengajariku juga tuk menjadi singa, tadi sekitar jam 19.00, aku singgah menjenguknya di rumah sepupuku, terlihat singa itu terkapar, ia hanya memanggil namaku dan menyuruhku tuk mengurut punggungnya, kulakukan semua apa yang ia inginkan, karena meski semuanya tlah kulakukan, tetap saja pengorbannannya tuk menjadikanku singa takkan bisa terbayarkan.
Perlahan kumulai sadar bahwa singa ini juga semakin tua, dan tenaganya semakin berkurang, aku harus mempersiapkan diri tuk menduduki tahtanya, agar adiik-adikku nantinya tidak terbengkalai, ku rela mencucurkan dar ah untuk membahagiakan keluargaku.
Pasangan A.R.AMIRUDDIN sebagai seorang pesilat, karateka, aktivis dakwah, mujahid dengan Dra. INDRIATI seorang sastrawati dari soppeng, hidupnya ia habiskan tuk membagikan ilmu tanpa pernah peduli dengan penghasilan yang ia dapatkan dari pekerjaannya itu, meskipun akhirnya ia difitnah, akan tetapi masyarakat telah lebih dulu mengetahui kebaikan yang telah ia berikan dari pada fitnah yang beredar. Begitupun dengan suaminya yang juga sastrawan, puisinya selalu terdengat di kota pinrang pada saat 17 agustusan, di setiap kecamatan dan desa. Pasangan yang perfect, seorang suami membuat puisi dan istrinya mengajarkan tentang cara penyebutan dan penghayatan kepada puisi itu.
Beginilah kehidupan yang kujalani, semuanya punya warna tersendiri, dan aku tak boleh terkungkung hanya dengan satu warna dan melupakan warna yang lain, setidaknya aku masih punya beberapa orang yang bisa memberiku motivasi untuk tetap berdiri sampai nafasku yang terakhir berhembus di medan perang “ALLAHUMMA FASYHAD”, di bawah ini beberapa motivasi yang beberapa hari lalu masuk ke dalam ponselku. TERIMA KASIH SEMUANYA, berilah aku senyuman, maka nyawa kan kupersembahkan padamu jika kau membutuhkannya, dan jagalah kepercayaan akan persaudaraan yang tlah kuberikan, karna persaudaraan adalah saliing tolong-menolong, bukan untuk mencari bawahan yang bisa kita perintah dan tindas, sebagaimana yang pernah aku alami sebelumnya. Tapi... aku tidak akan menatap kaca spion itu dengan berlama-lama, aku hanya melihatnya sesaat kemudian memacu gas untuk mencapai garis peradaban.
"kebimbangan ada dalam dirimu, temukan ketenangan bersama Allah dan semua pertanyaan akan terjawab dan ragu akan menjadi yakin, kita hidup untuk Allah, berjuanglah" (My sister in the paradise IQ)
"Hati hanya satu, ia adalah salah satu organ tubuh yang berukuran kecil, so... milikilah hati seluas dunia, agar engkau bisa mencintai seluruh makhluk bumi"(My friend in the FLP)
"kita ini hanyalah seorang pengembara yang sedang berkelana mengikuti pundak umurnya, mengarungi hari dan bulannya, ia lalui siang dan malam, dan ia dapati dirinya semakin jauh dari kehidupan dan semakin dekat dari kematian, tahukah kalian, kalau umur ini hanyalah titipan, dan kehidupan yang kekal abadi berada di negeri akhirat"(My brother in the DOMPET DHUAFA)
"semangat tinggi kadang membuatmu gegabah, mungkin terlalu melangit dan melupakan bumi tempat berpijak, melankolis, halus perasaannya dan mungkin itu yang menyebabkan kadang tidak tega, bergantung pada orang lain, ukhuwah sesuai iman kita, kualitas ukhuwah menggambarkan keimanan kita, tengok kembali jaring ukhuwahmu"(My sister in the dream)

DIA YANG KINI BERSERAKAN


Makassar 28 Juni 2010
Singa padang pasir



Dia yang kini berserakan
Di kepala tanpa ideologi keilmuan
Di cekam untuk sebuah pembenaran
Dari tiap butir kesalahan

Dia yang kini berserakan
Dalam ruang kesepian
Dan hanya terkungkung oleh ego tujuan
Dari para pengusung kejahatan

Dia yang kini berserakan
Dengan segala keserakahan
Dalam arus perputaran
Di tengah-tengah roda kehidupan

Dia yang kini berserakan
Dan kaupun tak tahu apa yang berserakan
Dia adalah sajak, karya, ekspresi, hujjah, dalih serta pengetahuan
Dan dia seringkali menjati tumbal pembenaran

AJAL SEBELUM DATANG


A.R. AMIRUDDIN
(UNTUK ISTRIKU DI ALAM SANA)




ajal
sepertinya semakin mendekat
setelah dua tahun lewat
aku di grogoti kanker usus stadium empat

ajal
adalah tamu
yang tak mungkin kuhindari
tamu yang tak tahu basa-basi
dan tak kenal kompromi

ajal pelaksana eksekusi
yang taat pada waktu
tak mau buru-buru
tapi tak pernah telat walau sesaat

ajal
adakah pilihan lain
kecuali menunggumu
didepan pintu
dengan setiap tawakkal
atas segala amal
dan dosa-dosaku

ajal
kau tahu apa yang paling kudambakan
menjelang detik-detik kedatanganmu
ampunan dari Tuhan
doa dari keluaraga
dan simpati dari teman-teman

ajal
jemputlah kapan saja
pada saatnya
toh kita bukan seteru
kita adalah sekutu
yang mestinya sudah kenal
sejak dari awal

ajal
sebelum kau datang
perkenankan aku bilang
selamat pagi matahari
selamat malam rembulan
aku cinta kehidupan

Jumat, 28 Mei 2010

TERSESAT DALAM PENCARIAN


Makassar 29 mei 2010
singa padang pasir




Telah kuitari tiap sudut padang sahara
Mencari asal suara bidadari
Yang telah mematri janji
Tuk membawaku ke kediamannya

Tenagaku telah terkuras semua
Setelah padang sahara kuitari
Dan jejaknya tak jua kudapati
Kecuali lelah dan dahaga

Dimana harus kumencari
Seteguk air pelepas dahaga
Saat kuterdampar di dalamnya
Bersama galau wajah sang bidadari

Nafasku kini tinggal sisa-sisa langkah
Langkah yang berjalan dengan gontai
Tubuhku hanya terbungkus kata lunglai
Tinggal menunggu datangnya penjemput arwah

Datanglah wahai penjemput arwah
Naikkan aku diatas tandu yang kau bawa
Bawa aku tuk bertemu dengannya
Meski tubuhku akan kau derah

Senin, 24 Mei 2010

BANGUNAN KEPERCAYAAN


Makassar 24 mei 2010
singa padang pasir





Terbingkai dalam tawa
Sebuah kenangan lama
Berkisah tentang sepasang mata
Yang senantiasa bersama

Tak ia biarkan DEBU mendekatinya
Karna Tlah ia bentengi denga kaca
Agar ia tetap bertatap muka
Tanpa debu bergerilya

Indah nian kisah mereka
Tonngak ia tancapkan sekeras baja
Tonggak yang terbuat dari serpihan rasa percaya
Tiada goyah walau di hempas berita

Sangat Kokoh pondasi mereka
Pondasi dari Iman dan Taqwa
Menopang bangunan persahabatan di atasnya
Tak kan pernah lekang dengan bergantinya masa

Minggu, 23 Mei 2010

DIMANA KEMANA


Makassar 23 mei 2010
Singa Padang Pasir



Mata ini sayup
Tak melihat datangnya rayap
Pada malam yang kian gelap
Datang saat mata terlelap

Dimana...
Bayangmu tlah berubah rasa
Nafasmu tak lagi menghembuskan asa
apa karna rayap menggrogoti semua

Kemana...
Lelah mataku memburu kecepatan cahaya
Cahaya tubuhmu yang tengah bergelora
Berlalu,,, meninggalkan semua

Di sini aku berdiri tegap
Menjagamu di balik kata siap
Agar kau tak lagi merayap
Hanya karna takut pada rayap

Rabu, 19 Mei 2010

AKU ADA UNTUKMU


Makassar 20 Mei 2010
singa padang pasir




Waktu tak mau berkawan denganku
Bahkan lidahnya selalu ia julurkan tuk menghinaku
Aku pun tak peduli dengan sikapnya yang tak setuju
Karna ku termenung menunggu datangnya imajinasiku

Sampai kapan kau menunggu
Imajinasi yang tak kunjung memberi harapan
Tidakkah kau merasa engah menantinya
Kedatangannya adalah ketidak pastian

Sabar kawan
Ia akan datang membawa secuil inspirasi
Lalu ku akan menorehkannya diatas perut kertasmu
Dengan mutiara kata-kata

Lihatlah kawan
Imajinasi telah datang
Janjiku kan kupenuhi
Kan kutuangkan mutiara kata ini ke dalam perutmu

Lihatlah kawan
Ia telah kembali
Aku pun tak akan pergi meninggalkanmu
Karna aku selalu ada untukmu

(puisi untuk syair yang beberapa hari tak kutemani)

Selasa, 18 Mei 2010


suara ayam terdengar begitu merdu di pertiga malam, menenggelamkan kesunyian malam yang kian mencekam, satu batalyon nyamuk juga tak mau kalah, datang dengan suara seperti helikopter, menyerang dengan rudal andalannya, aku tak bisa menghindar, aku hanya bisa menyaksikan ia menhisap darahku, biarlah... mungkin hanya ini yang bisa aku sedekahkan sebagai anak jalanan. tapi aku adalah hamba yang patut tuk berbangga dan bersyukur atas apa yang diberikannya, rumah tempat peristirahatanku adalah rumah yang begitu besar, selalu ramai orang berkunjung di tempatku, meski rumahku tak mempunyai dinding, namun atapnya begitu kuat nan kokoh, sehingga aku dan keluargaku bisa nyaman berada di bawahnya.
sebut saja namaku jumiati, aku adalah seorang anak gadis berusia 8 tahun, dengan usia yang masih dini ini, aku sudah harus turut ambil bagian untuk membantu orangtua mencari sesuap nasi, agar bisa bernafas panjang dalam area kehidupan ini, bagi orang mungkin ini adalah sesuatu yang kurang etis, anak dengan usiaku harus bekerja keras untuk mencari makan. aku juga tak mau terus-terusan menyalahkan takdir dan menjadikannya kambing hitam, karna masih ada kambing putih yang indah dan harus kita rawat baik-baik.
malam itu terlihat kendaraan tak henti-hentinya lalu-lalang, tidak seperti hari biasanya, oeya hampir lupa... kan ini malam minggu, malam paling dinanti-nanti oleh pasukan anti kebenaran, kerjaan mereka hanya menunggu waktu pergi melewatinya, waktunya ia habiskan untuk mengumpulkan dosa, dan salah satu tempat yang sering ia jadikan markas adalah di kediamanku, bukan cuma sekali, tapi tlah berulang kali kumelihat sepasang kekasih duduk berdampingan layaknya suami istri "gak malu kali yah".
malam terus berlalu, mataku belum jua bisa terpejam, dinginnya malam menembus kedalam tulang rusukku, seluruh badanku pun terasa kaku, namun darahnya masih bisa dinikmati oleh DENSUS 68 (NYAMUK), Dari kejauhan nampak sedikit cahaya dari celah-celah langit, sesaat itu juga embun berjatuhan dan aku membayangkan diriku tengah berada di negeri sakura sementara menikmati butiran salju.
"Pip...."
"Astaghfirullah". suara klakson itu membuat khayalanku buyar, padahal baru saja ku membangun sebuah istana impian di negeri sakura, tiba-tiba mobil itu datang dengan bunyi klakson yang super dahsyat, suaranya tlah merobohkan istanaku.
detik-detik waktu begitu terasa berlalu, cahaya fajarpun semakin jelas diatas sana, cahayanya membuat hantu kabur kembali ke tempatnya.
pagipun datang, memberi setetes kehangatan yang tak seperti biasanya, pirasatku semakin membuncah 'adakah hari ini seribu malaikat datang menghampiriku', kendaraan semakin padat, bagaikan kereta yang tak ada putus-putusnya, seperti biasa, dipagi hari senantiasa kupanjatkan doa kepada yang maha pengatur rezki, "Ya Allah.. mudah-mudahan rezkiku hari ini lebih banyak dari yang kemarin"
bersambung.........

Sabtu, 15 Mei 2010

MERANGKAI KENAPA


Makassar, 15 mei 2010
Singa Padang Pasir




Kenapa kuterdiam
Di lingkaran cahaya kelam
Padahal bias cahaya menyorot di dibelakang
Kenapa kutenggelam
Dalam belenggu angan-angan yang makin buram
Padahal Kenyataan menanti di sebelah ruang
Kenapa kumelamunkan
Setitik harapan yang tak tentu menjadi kenyataan
Padahal banyak Impian yang tlah kutorehkan
KENAPA, KENAPA DAN KEANAPA
Kenapa pula matahari terbenam
Saat kuterkungkung dengan suasana malam
padahal hangatnya kuharapkan datang
Kenapa jua Rembulan harus padam
Saat ku ketakutan dengan suasana malam yang mencekam
Padahal cahayanya begitu terang
Kenapa jua pelangi tak lagi mengitari awan
Saat kubosan melihat warna kehidupan
Padahal warnanya bisa menyejukkan pandangan
KENAPA, KENAPA DAN KENAPA

Kamis, 13 Mei 2010

WAJAH KOTAKU


Makassar, 14 mei 2010
Singa Padang Pasir



Sorak sorai terdengar begitu menggema
Di tiap sudut ruas jalan kota
Meneriakkah bisikan suara jiwa
Dengan ekspresi diam sampai memberonta

Semua berjuang atas nama hak & kebebasan
Namun kadang tersusupi oleh ambisi tak terkendali
Siapa yang patut disalahkan?
Semuanya tenggelam dengan eksotis pertunjukan ini

Bukan lagi sebuah rahasia
Gedung2 birokrat di hancurkan massa
Darah berceceran di sekujur tubuh mahasiswa
dan di bungkus rapi oleh isu media

Kasat mata bergelora dengan teriakan "ini adalah kekerasan"
Namun mereka berkata "ini adalah sebuah ekspresi seni"
Semua takkan terhentikan
Kecuali jika mereka ingin menyemai diri

Akankah ekspresi harus begini
Mewarnai hidup dengan dara murni
Bukankah hidup akan indah dengan celupan hiasan pribadi suci
Tiada kata dan alasan lagi tuk mengeksploitasi

Rabu, 12 Mei 2010

TANGIS IBU PERTIWI


Makassar, 13 Mei 2010
Singa Padang Pasir



Kemerdekaan tlah diraih
jauh hari dengan bayaran darah
Serta desah nafas yang terengah
Dari jiwa para ksatria tak bertuah

Namun pertanyaan menghampiri setiap raga
Masih merdekakah kita?
tidak, Merdeka tinggal kata pelipur lara
Yang terucap dari mulut yang hanya pandai bersua

Mengapa demikian?
karna Di rel kemerdekaan
Poliitikus mencoreng nama baik pemerintahan
Sejarawan tak lagi dapat menyikap tabir kebenaran
Sedang penguasa sibuk mencari ketenaran

Lalu, masihkah kita berleha diatas kata merdeka
Tidak saudara
Merdeka harus kita rampas dari tangan para penjarah dan penguasa
Agar Ibu Pertiwi tak lagi meluapkan air mata

Tapi, pipi Ibu pertiwi telah terlanjur basah dengan air mata
Mengenang perjuangan putranya yang telah gugur saat mengusir belanda
Dan pipi itu masih basah oleh genangan air mata
saat putranya berleha di atas pujian merdeka
tak peduli dengan para penjarah, perampas dan penguasa.
yang merampas lebih dari pada penjajah belanda

Sabtu, 08 Mei 2010

SATU KEADILAN BUAT IBU


Makassar, 19 April 2010
(singa padang pasir)




Saat embun menetes diatas dedaunan
Berirama, berkilau,serta memecah kesunyian
Dengan membawa daftar titipan pesan
Pesan buat satu tuntutan keadilan
lalu…setiap mulut akan bertanya
adakah keadilan masih berjaya?
saat iba tertelan masa, saat kasih pergi bersama tawa
Biarlah fakta yang akan berbicara
ingatlah….
oleh kalian yang tlah menyelami kesuksesan
kesuksesan yang berawal dari kepedihan
kepedihan yang tak akan di mengerti oleh ilmuwan dan sejarawan
kecuali mereka yang paham akan arti kelahiran
Cobalah merenung sejenak….
Saat gemuruh terdiam bersama kelahiran
senyum2 centil telihat jelas dari raut muka kerabat dan kawan
berharap pada bocah, akan datangnya sebuah kemerdekaan
kemerdekaan tanpa virus perbedaan.
lalu…dimanakah letak keadilan?
apa ia berada di genggaman para ikhwan
tanpa paham akan sakitnya kehamilan
ataukah keadilan berada di gengngaman sosok yang melahirkan ikhwan (ibu)
yang telah mengajarkan banyak arti kehidupan
Ibu…
Engkau adalah sosok bidadari dunia
Selalu tampil mempesona dalam canda, tawa dan sapa
Engkau adalah orang pertama menggoreskan sebuah peradaban
mengajarkan lebih banyak hal, daripada para ilmuwan
tersenyumlah…
Karna kau telah mengukir sejarah
walau harus bersimbah darah
dengan hembusan peluh kesah
sebagai wujud cinta kasih terindah

PILIHAN


Makassar, 5 Mei 2010
(Singa Padang Pasir)




Alangkah indah edelweiss di bibir bebatuan gunung
Disiram dengan air terjun yang deras
Bunganya mekar dan membuat pendaki tercengang
Aura eksotis menguap dari celah batu-batu cadas
Tapi tahukah kita
Ditengah keindahan terdapat kejelekan
Kebahagiaan masih bisa tersusupi kesedihan
Kesuksesan selalu di hantui kegagalan
Kekayaan tak bisa menghindari kefakiran
Tapi tahukah kita
Madu termanis dijaga oleh lebah yang siap menyengat
Bunga mawar di kelilngi oleh duri
Sungai yang tenang justru membahayakan
Angin tenang tengah malam membuat bulu kuduk berdiri
Hidup ini merupakan pilihan
Memilih yang baik atau terbaik
Menjadi Penguasa atau pengayom
Menjadi pemenang atau pengecut
Setiap pilihan tak selamanya indah
Semua mempunyai konsekwensi tersendiri
Namun pemenang adalah mereka yang dapat memilih
Dan tak lari dari kepedihan yang mengiringi
Siapkah kita menjadi pemenang
Mimikul beban yang kian bertambah
Atau mental kita hanya mental pengecut
Lari dan membuang segala beban di pundak kita
Tentukan pilihan kita
Disetiap detak jam yang berdetak
Yang berlalu dan tiada akan kembali
Dengan gelar Winner or Looser
Dan hanya pemenang yang akan tersisa

Rabu, 05 Mei 2010

UNTUK SESUNGGING SENYUMAN


Makassar, 5 Mei 2010
(singa padang pasir)





Ini adalah suara dari lorong hati yang tersuci
Mengirim kabar mlalui bait-bait syair suci
Untuk mutiara yang kini entah kemana
Akankah wujudnya masih ada dan akan kembali
Ada apa denganmu
Pergi berlari mengejar hembusan angin
Padahal angin selalu membelai rambutmu dibalik kerudung
Ada apa denganmu
Kabur dengan mengendarai rasa ragu
Padahal keyakinan telah datang menjemputmu setiap saat
Kemana semua janji perubahan yang tlah terlontar di kedua bibirmu
Akahkah ia hanya janji manis berbalut rasa munafik
Atau ia benar-benar janji suci yang kan kau tepati
Kemana sosok yang dulu ceria dan bersemangat
Apakah ia telah layu terhempas dengan tantangan serta ujian
Ataukah ia menghela nafas untuk semangat yang lebih dahsyat
Kemana, kenapa, ada apa, seandainya
Kata yang sibuk mencari kebenaran serta pembenaran
Ternyata semuanya tlah berubah
Senyum itu, kini sangat mahal tuk di persembahkan
Persaudaraan kini ditindis oleh permusuhan
Kasih sayang menampakkan wujud dendam dan amarah
Pertemuan pun kini terasa enggan
Kembalilah Mutiaraku (adikku)
Syair ini di ukir dengan tinta air mata
Sebagai wujud cinta para Pembina
Bukan maksud tuk memelas
Tapi hadirmu kami nantikan
Bukan maksud merendahkan diri
Tapi senyummu senantiasa dinanti
Namun, engkau adalah nahkoda
Bebas menentukan kemana arah kapal harus berlabuh (di Dermaga kegelapan/dermaga IQ)

Selasa, 04 Mei 2010

MENGAPA


Makassar, 4 Mei 2010
(singa padang pasir)



Kau renggut dia
Saat dewasa mendatanginya
Saat nirwana tersipuh malu padanya
Saat Cleopatra iri melihatnya
Kau megambilnya
Dari sudut peradaban dunia
Dari gubuk pelipur lara
Dari lingkaran cinta sang pencipta cinta
Mengapa…?
Mengapa harus dia
Bukankah masih banyak di luar sana
Wanita indah tanpa busana
Mengapa…?
Mengapa harus dia
Padahal dia baru saja memahat batu impian dunia
Lalu kau datang merusak, mengacaukan suasana
Usahlah kau usik dia yang sedang tertawa
Bersama liukan indah ketulusan para Pembina
Karna dia tak akan Nampak indah di pelupuk mata
Bila rona senyuman dan kedamaian hatinya berubah hampa

Sabtu, 01 Mei 2010

TERBANGLAH


Terbanglah...
Karna kau punya sayap tuk kau kepakkan
Karna kau punya keistimewaan
Karna kau punya Impian

Terbanglah...
Melewati corong pahit kehidupan
Menelisik di setiap jengkal perjalanan
Memandang dunia dari ketinggian

Terbanglah...
Bak elang perkasa yang bebas mencari mangsa
atau merpati yang indah di bawah kuasa tuannya
atau kupu-kupu yang terbang di tempat yang dapat membuatnya bahagia

Terbanglah...
Mengelilingi ruang cakrawala
Mengukir Impian di setiap titik jagad raya
Lalu tersenyumlah dengan keberhasilan beriringan tawa sahabat yang menyapa

(kepakkan sayapmu, kemanapun engkau ingin pergi, tapi ingat... jangan pernah kau robek sayapmu dengan keputus asaan dan jangan kau memberikan sayapmu kepada orang yang tak ingin terbang di atas cakrawala impian, karna itu semua akan membuatmu terdiam dan tak akan bisa kemana-mana, sebelum kau gapai impian yang tlah kau ukir) we will