Senin, 24 Mei 2010

BANGUNAN KEPERCAYAAN


Makassar 24 mei 2010
singa padang pasir





Terbingkai dalam tawa
Sebuah kenangan lama
Berkisah tentang sepasang mata
Yang senantiasa bersama

Tak ia biarkan DEBU mendekatinya
Karna Tlah ia bentengi denga kaca
Agar ia tetap bertatap muka
Tanpa debu bergerilya

Indah nian kisah mereka
Tonngak ia tancapkan sekeras baja
Tonggak yang terbuat dari serpihan rasa percaya
Tiada goyah walau di hempas berita

Sangat Kokoh pondasi mereka
Pondasi dari Iman dan Taqwa
Menopang bangunan persahabatan di atasnya
Tak kan pernah lekang dengan bergantinya masa

Minggu, 23 Mei 2010

DIMANA KEMANA


Makassar 23 mei 2010
Singa Padang Pasir



Mata ini sayup
Tak melihat datangnya rayap
Pada malam yang kian gelap
Datang saat mata terlelap

Dimana...
Bayangmu tlah berubah rasa
Nafasmu tak lagi menghembuskan asa
apa karna rayap menggrogoti semua

Kemana...
Lelah mataku memburu kecepatan cahaya
Cahaya tubuhmu yang tengah bergelora
Berlalu,,, meninggalkan semua

Di sini aku berdiri tegap
Menjagamu di balik kata siap
Agar kau tak lagi merayap
Hanya karna takut pada rayap

Rabu, 19 Mei 2010

AKU ADA UNTUKMU


Makassar 20 Mei 2010
singa padang pasir




Waktu tak mau berkawan denganku
Bahkan lidahnya selalu ia julurkan tuk menghinaku
Aku pun tak peduli dengan sikapnya yang tak setuju
Karna ku termenung menunggu datangnya imajinasiku

Sampai kapan kau menunggu
Imajinasi yang tak kunjung memberi harapan
Tidakkah kau merasa engah menantinya
Kedatangannya adalah ketidak pastian

Sabar kawan
Ia akan datang membawa secuil inspirasi
Lalu ku akan menorehkannya diatas perut kertasmu
Dengan mutiara kata-kata

Lihatlah kawan
Imajinasi telah datang
Janjiku kan kupenuhi
Kan kutuangkan mutiara kata ini ke dalam perutmu

Lihatlah kawan
Ia telah kembali
Aku pun tak akan pergi meninggalkanmu
Karna aku selalu ada untukmu

(puisi untuk syair yang beberapa hari tak kutemani)

Selasa, 18 Mei 2010


suara ayam terdengar begitu merdu di pertiga malam, menenggelamkan kesunyian malam yang kian mencekam, satu batalyon nyamuk juga tak mau kalah, datang dengan suara seperti helikopter, menyerang dengan rudal andalannya, aku tak bisa menghindar, aku hanya bisa menyaksikan ia menhisap darahku, biarlah... mungkin hanya ini yang bisa aku sedekahkan sebagai anak jalanan. tapi aku adalah hamba yang patut tuk berbangga dan bersyukur atas apa yang diberikannya, rumah tempat peristirahatanku adalah rumah yang begitu besar, selalu ramai orang berkunjung di tempatku, meski rumahku tak mempunyai dinding, namun atapnya begitu kuat nan kokoh, sehingga aku dan keluargaku bisa nyaman berada di bawahnya.
sebut saja namaku jumiati, aku adalah seorang anak gadis berusia 8 tahun, dengan usia yang masih dini ini, aku sudah harus turut ambil bagian untuk membantu orangtua mencari sesuap nasi, agar bisa bernafas panjang dalam area kehidupan ini, bagi orang mungkin ini adalah sesuatu yang kurang etis, anak dengan usiaku harus bekerja keras untuk mencari makan. aku juga tak mau terus-terusan menyalahkan takdir dan menjadikannya kambing hitam, karna masih ada kambing putih yang indah dan harus kita rawat baik-baik.
malam itu terlihat kendaraan tak henti-hentinya lalu-lalang, tidak seperti hari biasanya, oeya hampir lupa... kan ini malam minggu, malam paling dinanti-nanti oleh pasukan anti kebenaran, kerjaan mereka hanya menunggu waktu pergi melewatinya, waktunya ia habiskan untuk mengumpulkan dosa, dan salah satu tempat yang sering ia jadikan markas adalah di kediamanku, bukan cuma sekali, tapi tlah berulang kali kumelihat sepasang kekasih duduk berdampingan layaknya suami istri "gak malu kali yah".
malam terus berlalu, mataku belum jua bisa terpejam, dinginnya malam menembus kedalam tulang rusukku, seluruh badanku pun terasa kaku, namun darahnya masih bisa dinikmati oleh DENSUS 68 (NYAMUK), Dari kejauhan nampak sedikit cahaya dari celah-celah langit, sesaat itu juga embun berjatuhan dan aku membayangkan diriku tengah berada di negeri sakura sementara menikmati butiran salju.
"Pip...."
"Astaghfirullah". suara klakson itu membuat khayalanku buyar, padahal baru saja ku membangun sebuah istana impian di negeri sakura, tiba-tiba mobil itu datang dengan bunyi klakson yang super dahsyat, suaranya tlah merobohkan istanaku.
detik-detik waktu begitu terasa berlalu, cahaya fajarpun semakin jelas diatas sana, cahayanya membuat hantu kabur kembali ke tempatnya.
pagipun datang, memberi setetes kehangatan yang tak seperti biasanya, pirasatku semakin membuncah 'adakah hari ini seribu malaikat datang menghampiriku', kendaraan semakin padat, bagaikan kereta yang tak ada putus-putusnya, seperti biasa, dipagi hari senantiasa kupanjatkan doa kepada yang maha pengatur rezki, "Ya Allah.. mudah-mudahan rezkiku hari ini lebih banyak dari yang kemarin"
bersambung.........

Sabtu, 15 Mei 2010

MERANGKAI KENAPA


Makassar, 15 mei 2010
Singa Padang Pasir




Kenapa kuterdiam
Di lingkaran cahaya kelam
Padahal bias cahaya menyorot di dibelakang
Kenapa kutenggelam
Dalam belenggu angan-angan yang makin buram
Padahal Kenyataan menanti di sebelah ruang
Kenapa kumelamunkan
Setitik harapan yang tak tentu menjadi kenyataan
Padahal banyak Impian yang tlah kutorehkan
KENAPA, KENAPA DAN KEANAPA
Kenapa pula matahari terbenam
Saat kuterkungkung dengan suasana malam
padahal hangatnya kuharapkan datang
Kenapa jua Rembulan harus padam
Saat ku ketakutan dengan suasana malam yang mencekam
Padahal cahayanya begitu terang
Kenapa jua pelangi tak lagi mengitari awan
Saat kubosan melihat warna kehidupan
Padahal warnanya bisa menyejukkan pandangan
KENAPA, KENAPA DAN KENAPA

Kamis, 13 Mei 2010

WAJAH KOTAKU


Makassar, 14 mei 2010
Singa Padang Pasir



Sorak sorai terdengar begitu menggema
Di tiap sudut ruas jalan kota
Meneriakkah bisikan suara jiwa
Dengan ekspresi diam sampai memberonta

Semua berjuang atas nama hak & kebebasan
Namun kadang tersusupi oleh ambisi tak terkendali
Siapa yang patut disalahkan?
Semuanya tenggelam dengan eksotis pertunjukan ini

Bukan lagi sebuah rahasia
Gedung2 birokrat di hancurkan massa
Darah berceceran di sekujur tubuh mahasiswa
dan di bungkus rapi oleh isu media

Kasat mata bergelora dengan teriakan "ini adalah kekerasan"
Namun mereka berkata "ini adalah sebuah ekspresi seni"
Semua takkan terhentikan
Kecuali jika mereka ingin menyemai diri

Akankah ekspresi harus begini
Mewarnai hidup dengan dara murni
Bukankah hidup akan indah dengan celupan hiasan pribadi suci
Tiada kata dan alasan lagi tuk mengeksploitasi

Rabu, 12 Mei 2010

TANGIS IBU PERTIWI


Makassar, 13 Mei 2010
Singa Padang Pasir



Kemerdekaan tlah diraih
jauh hari dengan bayaran darah
Serta desah nafas yang terengah
Dari jiwa para ksatria tak bertuah

Namun pertanyaan menghampiri setiap raga
Masih merdekakah kita?
tidak, Merdeka tinggal kata pelipur lara
Yang terucap dari mulut yang hanya pandai bersua

Mengapa demikian?
karna Di rel kemerdekaan
Poliitikus mencoreng nama baik pemerintahan
Sejarawan tak lagi dapat menyikap tabir kebenaran
Sedang penguasa sibuk mencari ketenaran

Lalu, masihkah kita berleha diatas kata merdeka
Tidak saudara
Merdeka harus kita rampas dari tangan para penjarah dan penguasa
Agar Ibu Pertiwi tak lagi meluapkan air mata

Tapi, pipi Ibu pertiwi telah terlanjur basah dengan air mata
Mengenang perjuangan putranya yang telah gugur saat mengusir belanda
Dan pipi itu masih basah oleh genangan air mata
saat putranya berleha di atas pujian merdeka
tak peduli dengan para penjarah, perampas dan penguasa.
yang merampas lebih dari pada penjajah belanda