Minggu, 18 April 2010


Makassar, 18 April 2010

Embun pagi berirama dengan gesekan rerumputan
Berkilau membawa aroma kesejukan
Menitipkan daftar titipan pesan
Pesan untuk satu tuntutan keadilan
lalu…
setiap mulut akan bertanya
adakah keadilan masih berjaya?
saat iba tertelan masa, saat kasih pergi bersama tawa
Tinggallah fakta yang akan berbicara
ingatlah….
oleh kalian yang tlah menyelami kesuksesan
kesuksesan yang berawal dari kepedihan
kepedihan yang tak akan di mengerti oleh ilmuwan dan sejarawan
kecuali mereka yang paham akan arti kelahiran
Cobalah merenung sejenak….
Saat gemuruh terdiam bersama kelahiran
senyum2 centil telihat jelas dari raut muka kerabat dan kawan
berharap pada bocah, akan datangnya sebuah kemerdekaan
kemerdekaan tanpa virus perbedaan.
lalu…dimanakah letak keadilan?
apa ia berada di genggaman para ikhwan
tanpa paham akan sakitnya kehamilan
ataukah keadilan berada di gengngaman para pencipta ikhwan (ibu)
yang telah mengajarkan banyak arti kehidupan
Ibu…
Engkau adalah sosok bidadari di dunia
Selalu tampil mempesona dalam canda, tawa dan sapa
Engkau adalah orang pertama menggoreskan sebuah peradaban
mengajarkan lebih banyak hal, daripada para ilmuwan

Rabu, 14 April 2010

INDAHNYA PERPADUAN


Hamparan langit diatas sana bernama IBNU QOLBY
Bulan yang terang benderang itu adalah para Pembina
Sedangkan kerlap-kerlip bintang dengan kilau yang memukau adalah Anak2 IQ
Ibaratnya, hamparan langit itu tidak akan Nampak indah di pandang mata, saat ia murung sendirian dengan kegelapan, tanpa cahaya rembulan dan kerlip bintang.
Begitupun langit, bagaimanapun warnanya, ia bukanlah hal yang spesial, meski ada sang rembulan di sampingnya, namun tak ada bintang meramaikan.
Sebaliknya juga demikian, langit tetap terasa sunyi, meski bintang bersanding dengannya, akan tetapi rembulan tidak muncul untuk melengkapi.
Akan tetapi langit itu akan menjadi pemandangan yang indah mempesona dan memukau pandangan setiap orang yang memandangnya, saat ia berpadu bersama cahaya sang rembulan malam, dan diapit oleh kerlip bintang disekitarnya, kalau sudah demikian, maka mata siapa yang dapat bertahan untuk tidak memandangnya.
Pesan seekor singa untuk kita semua
Marilah kita senantiasa bersatu padu dalam lingkaran keislaman, saling menguatkan, saling mengingatkan akan kesalahan dan kebaikan, agar semua makhluk yang ada di sekeliling kita dapat merasakan dan menyaksikan panorama indah dari perpaduan Langit IBNU QOLBY,, Cahaya Rembulan PEMBINA, dan Kerlip bintang ANAK-ANAK IBNU QOLBY.
Keep hamasah…..
Mari kita buktikan pada dunia, kalau kita ini beda!!

“BE THE BEST, BUT… DON’T FEEL THE BEST”

INDAHNYA PERPADUAN

Hamparan langit diatas sana bernama IBNU QOLBY
Bulan yang terang benderang itu adalah para Pembina
Sedangkan kerlap-kerlip bintang dengan kilau yang memukau adalah Anak2 IQ
Ibaratnya, hamparan langit itu tidak akan Nampak indah di pandang mata, saat ia murung sendirian dengan kegelapan, tanpa cahaya rembulan dan kerlip bintang.
Begitupun langit, bagaimanapun warnanya, ia bukanlah hal yang spesial, meski ada sang rembulan di sampingnya, namun tak ada bintang meramaikan.
Sebaliknya juga demikian, langit tetap terasa sunyi, meski bintang bersanding dengannya, akan tetapi rembulan tidak muncul untuk melengkapi.
Akan tetapi langit itu akan menjadi pemandangan yang indah mempesona dan memukau pandangan setiap orang yang memandangnya, saat ia berpadu bersama cahaya sang rembulan malam, dan diapit oleh kerlip bintang disekitarnya, kalau sudah demikian, maka mata siapa yang dapat bertahan untuk tidak memandangnya.
Pesan seekor singa untuk kita semua
Marilah kita senantiasa bersatu padu dalam lingkaran keislaman, saling menguatkan, saling mengingatkan akan kesalahan dan kebaikan, agar semua makhluk yang ada di sekeliling kita dapat merasakan dan menyaksikan panorama indah dari perpaduan Langit IBNU QOLBY,, Cahaya Rembulan PEMBINA, dan Kerlip bintang ANAK-ANAK IBNU QOLBY.
Keep hamasah…..
Mari kita buktikan pada dunia, kalau kita ini beda!!

“BE THE BEST, BUT… DON’T FEEL THE BEST”

Kamis, 08 April 2010

Rembulan Cahaya Ilahi


Suara merdu bersua di sela rerumputan
Mengisi kekosongon hati dalam peraduan
suara hewan malam pun saling bersahutan
Mengiringi perantauan dalam samudera keilmuan

WaHai rembulan yang terang benderang
Lihatlah kami yang sedang riang
Berkumpul dengan semangat juang
Untuk meraih angan-angan yang senantiasa terngiang

Wahai rembulan malam
Jangan kau berwajah muram
Dengan mata awas seakan mencekam
Membisukan segala cita-cita bak makam

Wahai rembulan suci
Berapit kerlap bintang murni
Terangilah segala tekad kami
Menuju ridho sang Rabbi
Melalui ruang IBNU QOLBI

Minggu, 04 April 2010

RUMAH MIMPI


Bangkitlah dan bergerak dari rahim ibu pertiwi
Melaju bersama kibasan anging mamiri
Menepati segala janji
Janji yang tlah terpatri dalam hati

Jangan engkau diam dengan kegalauan
Singsingkan lengan baju kalian
Meraih segala angan-angan
Angan-angan yang akan jadi kenyataan

Bangunlah tiang-tiang dari mimpi-mimpimu
Karna pondasi dari mimpi itu sudah lama menunggu
Menunggu datangnya para buruh
Walau dengan riuh yang bergemuruh

Mimpi adalah pondasi dari sebuah kenyataan
Lalu gerak akan menjadi tiang-tiang penyanggah keeberhasilan
Dari atap rumah kenyataan dan keberhasilan
Dan duduklah didalam bersama dengan kesuksesan

Minggu, 28 Maret 2010

KAWAN TANPA SAINGAN


Hujan deras mendera diperempat malam
Menghempas dan menggugurkan dedaunan
Lampu neon yang menjadi teman kegelapan
Mati bersama kilatan awan
kegelapan menyebar ketakutan
Ketika pikiran menelisik keadaan
Bagiku....
Hidup menyendiri adalah sebuah pilihan
Pilihan yang entah didalamnya kebaikan pun keburukan
Tlah kulalui sekian putaran roda kehidupan
Dengan berbagai cobaan dan ujian
Namun, Tak kudapati sosok kawan
yang dapat mesra bak ikan peraduan
Temanku adalah lawan berselimut kawan
Bertutur lembut dihadapan
Dibelakang menghujat dengan cacian
Kucoba menarik garis simpul keadilan
bahwa menyendiri adalah sebuah kebaikan
Tapi pernyataanku berbentur dengan keadaan
saat derita datang bergiliran
Ku kayuh sepeda di setiap jalan
Menerobos lorong terjal bebatuan
Mencari teman yang mau berkawan
Dan kutemui di sebuah lorong keadilan
Saat melihat wajah muda cantik nan tampan
Semangat belajar didalam pengajian
Bukan di balik selimut kain kafan
Tapi disamping pekuburan
Anak-anak Ibnu Qolby adalah kawan tanpa saingan
Akan menoreh sebuah peradaban

Sabtu, 27 Maret 2010

Suara Pemulung


Berirama dengan suara kresek
Tak peduli ia busuk
Akan kami tenteng walau dengan sesak

Kasur empuk itu bernama koran
Bantalnya terbuat dari gulungan karton
Berselimut karung pungutan
Berumah bumi dengan atap awan

Kami pemulung berharap pengakuan
Dari entitas masyarakat sampai pemerintahan
Kami hanyalah pemulung jalanan
Mengais sampah demi sesuap nasi dan jajanan

Kami tak butuh iba dari mata munafik
Terlihat sedih, namun berpenyakit
Mendekat saat butuh tapak jejak
Dan pergi bersamaan hilangnya sulit

Tak perlu kami iri dengan para pejabat
Karna mereka kenyang dan nyenyak di pembaringan
Cukuplah mereka datang melayat
Saat pemulung semua berguguran