Kamis, 08 April 2010

Rembulan Cahaya Ilahi


Suara merdu bersua di sela rerumputan
Mengisi kekosongon hati dalam peraduan
suara hewan malam pun saling bersahutan
Mengiringi perantauan dalam samudera keilmuan

WaHai rembulan yang terang benderang
Lihatlah kami yang sedang riang
Berkumpul dengan semangat juang
Untuk meraih angan-angan yang senantiasa terngiang

Wahai rembulan malam
Jangan kau berwajah muram
Dengan mata awas seakan mencekam
Membisukan segala cita-cita bak makam

Wahai rembulan suci
Berapit kerlap bintang murni
Terangilah segala tekad kami
Menuju ridho sang Rabbi
Melalui ruang IBNU QOLBI

Minggu, 04 April 2010

RUMAH MIMPI


Bangkitlah dan bergerak dari rahim ibu pertiwi
Melaju bersama kibasan anging mamiri
Menepati segala janji
Janji yang tlah terpatri dalam hati

Jangan engkau diam dengan kegalauan
Singsingkan lengan baju kalian
Meraih segala angan-angan
Angan-angan yang akan jadi kenyataan

Bangunlah tiang-tiang dari mimpi-mimpimu
Karna pondasi dari mimpi itu sudah lama menunggu
Menunggu datangnya para buruh
Walau dengan riuh yang bergemuruh

Mimpi adalah pondasi dari sebuah kenyataan
Lalu gerak akan menjadi tiang-tiang penyanggah keeberhasilan
Dari atap rumah kenyataan dan keberhasilan
Dan duduklah didalam bersama dengan kesuksesan

Minggu, 28 Maret 2010

KAWAN TANPA SAINGAN


Hujan deras mendera diperempat malam
Menghempas dan menggugurkan dedaunan
Lampu neon yang menjadi teman kegelapan
Mati bersama kilatan awan
kegelapan menyebar ketakutan
Ketika pikiran menelisik keadaan
Bagiku....
Hidup menyendiri adalah sebuah pilihan
Pilihan yang entah didalamnya kebaikan pun keburukan
Tlah kulalui sekian putaran roda kehidupan
Dengan berbagai cobaan dan ujian
Namun, Tak kudapati sosok kawan
yang dapat mesra bak ikan peraduan
Temanku adalah lawan berselimut kawan
Bertutur lembut dihadapan
Dibelakang menghujat dengan cacian
Kucoba menarik garis simpul keadilan
bahwa menyendiri adalah sebuah kebaikan
Tapi pernyataanku berbentur dengan keadaan
saat derita datang bergiliran
Ku kayuh sepeda di setiap jalan
Menerobos lorong terjal bebatuan
Mencari teman yang mau berkawan
Dan kutemui di sebuah lorong keadilan
Saat melihat wajah muda cantik nan tampan
Semangat belajar didalam pengajian
Bukan di balik selimut kain kafan
Tapi disamping pekuburan
Anak-anak Ibnu Qolby adalah kawan tanpa saingan
Akan menoreh sebuah peradaban

Sabtu, 27 Maret 2010

Suara Pemulung


Berirama dengan suara kresek
Tak peduli ia busuk
Akan kami tenteng walau dengan sesak

Kasur empuk itu bernama koran
Bantalnya terbuat dari gulungan karton
Berselimut karung pungutan
Berumah bumi dengan atap awan

Kami pemulung berharap pengakuan
Dari entitas masyarakat sampai pemerintahan
Kami hanyalah pemulung jalanan
Mengais sampah demi sesuap nasi dan jajanan

Kami tak butuh iba dari mata munafik
Terlihat sedih, namun berpenyakit
Mendekat saat butuh tapak jejak
Dan pergi bersamaan hilangnya sulit

Tak perlu kami iri dengan para pejabat
Karna mereka kenyang dan nyenyak di pembaringan
Cukuplah mereka datang melayat
Saat pemulung semua berguguran

Selasa, 26 Januari 2010

GURUKU DALAM BERTARUNG


Makassar, 20 januari 2010
Aqsa Ahmad Fikry Al-Qusyairy


Ku tulis sebuah sajak mungil
Sajak dari bocah kecil
Yang kadang merengek
Saat di gertak

Ku coba tuk ungkap fakta
Fakta yang tak semua orang tahu
Hanya kau dan aku
Yang tahu

Bayangmu selalu bersemayam di dadaku
Beriring denyut jantung
Bak detik waktu
Di pelupuk kayu

Engkau tlah mendidikku
Dengan segala pengetahuanmu
Tapi, Kadang ku bertanya di hela waktu
Apa yang kau inginkan dariku?

Suaramu terdengar lambai
Saya butuh pejuang
Saya butuh petarung
Saya butuh pemberani

Engkau keluar setiap hari
Mengharap rezki dari maha suci
Tapi, kadang ku bertanya dalam hati
Kenapa engkau tak pernah lalai?

Mulutmu hanya berucap beberapa kata
Aku punya beberapa jundi
Akan membela negeri
Akan berjuang sampai mati

Sosokmu sangatlah unik
Tegar dan pemberani
Tak pernah terlihat sedih di wajahmu
Walau ku tahu
Bahwa engkau begitu lelah

Bagiku engkau adalah singa
Akan menerkam orang yang membuatku tak berdaya

Bagiku engkau adalah jundi
Menerobos segala duri

Bagiku engkau adalah mutiara
Berkilau di tengah kebobrokan dunia

Bagiku engkau adalah pelita
Senantiasa Bercahaya di setiap gelap gulita

Bagiku engkau adalah malaikat
Selalu ada dan dekat

Engkau tlah mengajariku bertarung dan berjuang
Sebagai Wujud dari cita sucimu

Impianku di masa depan
Jasadku akan kau ambil dari medan juang
Saat utuh atau berserakan

Itu semua adalah sebuah kepastian
Kan ku jemput dengan keberanian

Rabu, 06 Januari 2010

Pencarian Jati Diri


Keluarlah...
Berjalan ataupun berlari
Tapakkan kakimu di seluruh belahan bumi Nusantara
Hisaplah...
Semua madu ilmu di setiap tanah yang kau tapaki
Resapi...
Irama yang indah dari setiap hentakan kaki
Rangkullah setiap kawan yang kau temui di jalan
Lalu pekikkan takbir
Sebagai awal dari perjuangan.

Sabtu, 12 September 2009

Menanti Sebuah Ijabah Di Balik Hijab


Kehidupan adalah sebuah karunia ilahi kepada kita, begitupun dengan sifat-sifat yang ada dalam diri kita, marah dan cinta adalah dua komponen fithrah yang ada di dalam diri manusia, akan tetapi terkadang marah ini menjadi sebuah bencana dan keluar dari fithrahnya ketika berlebih-lebihan atau melampiaskannya. begitupun dengan yang namanya cinta, perasaan cinta itu bisa muncul kapan saja dan di mana saja, Ia tak kenal muda ataupun muda, gadis, pemuda, janda, maupun duda. karena begitulah Allah menciptakan rasa ini.
nah... sekarang ane mau bercerita sedikit tentang kisah seorang pemuda yang dirundung rasa cinta, sebutlah namanya adalah asadullah, dia adalah pemuda yang hidup di tengah masyarakat yang rusak moralnya, akan tetapi kehidupan itulah yang membuatnya menjadi tegar dan giat dalam beribadah dan berdakwah, ia memang sosok pemuda yang menyukai sebuah tantangan, semua perjalanan hidupnya seakan-akan adalah ujian, bisa di katakan bahwa dunia tak berpihak padanya, akan tetapi akhirat sangat sayang dan menantinya.
tibalah pada suatu hari di mana ia telah melepaskan seragam SMAnya, menuju cerahnya sebuah gedung-gedung Ilmiah di kota Makassar, Ia pun memasuki sebuah perguruan tinggi dengan mengambil jurusan syariah, sebagaimana yang ia cita-citakan dari dulu demi perbaikan masyarakat yang ada di daerahnya ketika ia lulus kelak.
pada saat ia masuk ke perguruan tinggi ternyata keberuntungan mulai menyertainya, di sini ia menemukan begitu banyak sosok pemuda yang mirip dengan karakternya, serta sama-sama memiliki tekad tuk perbaikan ummat ke depan, walhasil ia pun di ajak tuk bergabung di dalam pengajian pekanan oleh teman-teman kampusnya, hari demi hari pun berlalu, sekarang ia telah masuk pada usia dewasa, di mana mulai muncul keinginan-keinginan tuk menikah dan mengakhiri kehidupannya, upss... salah, maksudnya tuk mengakhiri masa lajangnya.
pikirannya mulai berbenturan antara kuliah, kerja dan nikah, hari-harinya semakin semerawut, pikiran-pikiran itu masih saja saling mengejek, tanpa ingin berdamai di dalam memory otaknya. memory yang dulunya hanya di huni oleh satu makhluk yaitu Ilmu, kini harus bertempur dan berdesak-desakan dengan dua makhluk baru yaitu Kerja dan Nikah.
hari demi hari terus saja berlalu, seiring berlalunya detik demi detik jam tangannya, tanpa ingin bertanya dan acuh tak acuh dengan keadaan asadullah.
keesokan harinya ia makhluk yang bernama Kuliah(Ilmu) itu melakukan MOU dengan si Kerja, ia mulai bersatu, pembagian kamarpun sudah di atur, semuanya berjalan dengan mulus sesuai dengan planning. akan tetapi si Nikah ini merasa di cuekin dan mulai masuk fittnes, ia memperbesar badannya, hingga akhirnya ia mampu menumbangkan Si Kuiah dan si Kerja. sekarang kendali otak dia yang memegang, sekarang dialah yang menjadi nahkoda bagi Kapal Asadullah.
tiba di sebuah penghujung malam, asadullah terbangun dari tidurnya di sepertiga malam, kemudiaan ia teringat oleh kata-kata Ustad yang sering ngisi pengajian di tempatnya "segala sesuata yang kita hadapi, itu harus kita laporkan dan adukan kepada Allah, karena dia adalah dzat yang tiada tanding"
ia pun bergegas menuju kamar kecil yang berada di dalam kamarnya.
"ssrsrsrsrsrs...." suara kran air terdengar indah di pertiga malam itu, seakan ia adalah nada piano yang di mainkan oleh ahlinya
asadullah pun mengambil air wudhu, walaupun air itu sangatlah dingin, tapi dingin itu tidak mengurangi keinginannya tuk mengadukan masalahnya di hadapan sang pencipta. setelah berwudhu ia kemudian menuju ke sebuah lemari kecil yang terdapat di dalam kamarnya, kemudian meraih sajadah,serta mengeluarkan sarung, baju kokoh, dan kopiah dari lemari itu, wangi parfumpun tak kala harumnya malam itu, ia memakai parfum seakan-akan ingin bertemu seorang kekasih, beginilah asadullah setiap malamnya, ia sangat memuliakan Allah di setiap sujud dan gerakan shalatnya, sungguh ia merupakan pemuda yang sangat elok di masa ini.
"Assalamu 'Alaikum warahmatullah" suara salam tanda akhir dari shalatnya pun terdengar dengan penuh pengharaapan kepada sang Maha pencipta.
"Ya Allah.....,
engkau telah menguji hamba dengan Kesakitan dan hamba mampu melewatinya
Engkau menguji hamba dengan Kemiskinan itupun hamba lalui
Engkau menguji hamba dengan wajah yang pas-pasan, dan hamba tetap tak berpaling darimu
Engkau mengambil Ibu hamba, hambapun tabah dan tawakkal padamu
akan tetapi sekarang hamba mendapat ujian yang baru darimu
Engkau telah mempertemukanku dengan makhluk ciptaanmu yang begitu lembut
yang telah membuat Adam engkau turunkan ke Bumi
Makhluk yang sangat susah tuk di pahami
Namun kerap kali membuat decak kagum di hati anak cucu adam
Entah apa yang ada di skenariomu wahai Dzat yang tiada tanding.
Entah ini adalah nikmat atau fitnah darimu, hanya engkaulah yang maha tahu.
malam ini ku bermunajat dengan penuh harap padamu
dengan mengakui segala kekurangan dan kelemahan hamba
Malam ini hamba akan senantiasa berdzikir padamu sampai engkau menetapkan hati hamba
Ya Allah...
Janganlah engkau siksa hati ini dengan rasa cinta
Berilah hamba Pendamping sebagai nikmat dan penyejuk rasa hati
Jangan engkau berikan pendamping sebagai fitnah dalam alur kehidupan hamba
Ya Allah...
kumohon padamu yang Maha mengIjabah segala doa
Padamulah ku bermunajah
Padamulah ku minta segala sesuata
Dekatkanlah jodoh Hamba
Permudahlah singgasana yang telah engkau tulis dalam skenariomu
Kalau ia adalah jodoh Hamba maka mudahkanlah dan berikanlah petunjukmu di dalam hati hamba, agar hamba dapat merasa tenang.
Ya Allah....
Pantaskah Hamba menikah di Usia yang begitu dini Ini?
Pantaskah Hamba menikah tanpa persiapan harta yang cukup?
Kalau memang tidak!!!!!
Mengapa engkau menciptakan rasa ini terlalu cepat
Ya Allah...
Mudah-mudahan ada suara di balik hijab sana yang masuk melalui mimpiku
Mudah-mudahan engkau memilih yang terbaik bagi hamba
Karena engkau lebih mengetahui mana yang terbaik bagi hamba."
sebuah doa yang begitu panjang yang senantiasa asadullah panjatkan pada Tuhan di setiap malam, doa itu ia ucapkan, karena ingin mendamaikan Kuliah, Kerja dan Nikah yang berada dalam tempurung otaknya, ia ingin melihat ketiganya akur dan bisa berjalan bersama.